6 TH CECAR Civil Engineering Conference in the Asian Region


Agustus 2013 HAKI merencanakan acara event International akbar berupa Conference Civil Engineering Conference in the Asian Region (CECAR 6), yang akan dgabung dengan Seminar tahunan HAKI pada tanggal 20-22 Agustus 2013.

CECAR yang diselenggarakan setiap 3 tahun, merupakan ajang sharing dan pembelajaran bagi civil engineers Asia Pacific di bawah ACECC (the Asian Civil Engineering Coordinating Council) dan Indonesia diwakili oleh HAKI..

Semoga Indonesia dapat menjadi tuan rumah yang baik, sekaligus menunjukkan kepada internasional bahwa Indonesia Bisa…!!!

Ayo segera daftarkan diri anda, manfaatkan konferensi ini sebagai ajang diskusi dan tukar pikiran dengan para pakar, praktisi civil engineering luar..

Berikut informasi selengkapnya :

Metode Pelaksanaan Gedung Tinggi


Pelaksanaan Pekerjaan

Apartemen  Pakubuwono View – Jakarta

 

 A.  Pendahuluan

Tahap pelaksanaan merupakan tahapan untuk mewujudkan setiap rencana yang dibuat oleh pihak perencana. Pelaksanaan pekerjaan merupakan tahap yang sangat penting dan membutuhkan pengaturan serta pengawasan pekerjaan yang baik sehingga diperoleh hasil yang baik, tepat pada waktunya, dan sesuai dengan apa yang sudah direncanakan sebelumnya.

Tahap pelaksanaan pekerjaan merupakan tahap yang menentukan berhasil tidaknya suatu proyek, oleh karena itu perlu dipersiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan teknis pekerjaan, rencana kerja, serta tenaga pelaksana khususnya tenaga ahli yang profesional yang dapat mengatur pekerjaan dengan baik serta dapat mengambil keputusan-keputusan mengenai masalah-masalah yang ditemui di lapangan.

Dalam pelaksanaan fisik suatu proyek bisa saja timbul masalah-masalah yang tidak terduga dan tidak dapat diatasi oleh satu pihak saja. Untuk itulah diperlukan adanya rapat koordinasi untuk memecahkan dan menyelesaikan masalah bersama-sama. Dalam rapat koordinasi dihadiri oleh :

  • Konsultan proyek
  • Koordinator dan para pelaksana
  • Pihak pemilik (owner) jika diperlukan
  • Pihak perencana / arsitek jika diperlukan

Hal-hal yang dibahas dan diselesaikan dalam rapat koordinasi meliputi :

  • Kemajuan ( progress)  pekerjaan di lapangan
  • Masalah-masalah dan solusinya menyangkut pelaksanaan di lapangan
  • Realisasi pelaksanaan pekerjaan yang telah dicapai dibandingkan  dengan time schedule yang telah direncanakan
  • Masalah administrasi yang menyangkut kelengkapan dokumen kontrak
  • Sasaran yang akan dicapai untuk jangka waktu ke depan

Dalam tahap pelaksanaan, semua pelaksanaan pekerjaan di lapangan mengikuti rencana yang telah dibuat oleh pihak perencana. Antara lain gambar rencana dan segala detailnya, jenis material, dan dokumen lainnya. Tahap selanjutnya kontraktor mengerjakan shop drawing sebagai gambar pelaksanaan dengan ruang lingkup serta detail yang lebih sempit kemudian untuk tahap akhir kontraktor membuat as built drawing sebagai gambar akhir sesuai dengan yang ada di lapangan yang digunakan sebagai laporan akhir .

Dalam bab ini, pelaksanaan pekerjaan yang akan penulis uraikan adalah tentang pekerjaan yang dilaksanakan dan dialami penulis selama kerja praktek di proyek pembangunan Apartemen The Pakubuwono View, pelaksanaan pekerjaan antara lain :

  • Pekerjaan dewatering
  • Pekerjaan ground anchor
  • Pekerjaan Mat Foundation
  • Pekerjaan struktur beton Kolom, Balok, Plat dan Cor Wall pada Basement, lantai dasar dan lantai 2.

B.  Peralatan

Suatu proyek agar lancar dan memenuhi targer mutu dan waktu harus didukung  oleh peralatan yang memadai. Supaya dalam penyediaan alat bias berfungsi  secara optimal perlu adanya  manajem peralatan yang tertib. Dalam manajemen ini diperhatikan masalah pengolahan peralatan proyek terdiri dari penyewaan, pembelian dan masalah perawatan alat. Hal ini untuk mengefektifkan keberadaan alat dilapangan.

Peraalatan pada proyek The Pakubuwono View Jakarta diantaranya termasuk kepemilikan oleh kontraktor tersendiri, tapi untuk alat – alat berat kebanyakan dengan sewa karena biaya akan lebih murah. Perelatan pada peralatan pada proyek akan diuraikan dibawah ini.

  1.  Alat – alat Berat

   a.  Backhoe

            Backhoe merupakan suatu alat yang digunakan untuk pekerjaan tanah khususnya galian. Backhoe termasuk dalam jenis kendaraan excavator , karena badannya dapat berputar 360o. Keuntungan dari penggunaan Backhoe adalah dapat melakukan pekerjaan penggalian dengan lebih cepat dan lebih efisien. Kinrja Backhoe biasanya di kombinasikan dengan Dump Truck pada saat galian tanah. Pada proyek ini digunakan Backhoe dengan tipe Crawel, yang mempunyai tenaga 100 HP dengan mengguanakan bahan bakar solar.

Gambar 4.1 Backhoe

   b.  Conrete Pump Truk

Merupakan alat untuk memompa beton ready mix dari mixer truck ke lokasi pengecoran. Penggunaan concrete pump truck ini untuk meningkatkan kecepatan dan efisiensi waktu pengecoran. Alat ini digunakan untuk pengecoran balok dan plat lantai.

Alat ini terdiri atas beberapa bagian, yaitu alat utama berupa mesin pompa yang dilengkapi dengan tenaga penggerak berupa mesin diesel, sejumlah pipa berdiameter 15 cm serta nenerapa alat tambahan berupa klem penyambung pipa-pipa tersebut. Penggunaan mesin pompa kecil masih efisien untuk ketinggian 4-5 lantai, selebihnya menggunakan tower crane. Dan untuk pompa besar dapat menjangkau lebih dari itu, dan biasa digunakan di lantai 15 ke atas agar efisiensi biaya berkaitan dengan harga borongan sewanya.

Gambar 4.2    Concrete Pump Truck

 

   c.  Tower Crane

Tower rane diperlukan terutama sebagai pengangkut vetikal bahan-bahan untuk pekerjaan struktur, seperti besi beton, bekisting, beton cor, pengangkutan material/bekas, dan material lainnya. Penempatan tower crane harus direncanakan bisa menjangkau seluruh areal proyek konstruksi bangunan yang akan dikerjakan dengan manuver yang aman tanpa terhalang. Penggunaan tower crane tersebut juga harus memperhitungkan beban maksimal yang mampu diangkatnya. Dalam proyek ini digunakan 3 TC dengan beban maksimal yang dapat diangkut 2 ton. Operator TC harus siap untuk mengakomodasi perintah pengangkutan dari mandor atau pengawas di daerah jangkauannya.

Gambar 4.3.Tower Crane

   d.  Concrete Mixer Truck

Merupakan alat untuk memompa beton ready mix dari mixer truck ke lokasi pengecoran. Penggunaan concrete pump truck ini untuk meningkatkan kecepatan dan efisiensi waktu pengecoran. Alat ini digunakan untuk pengecoran balok dan plat lantai.

Alat ini terdiri atas beberapa bagian, yaitu alat utama berupa mesin pompa yang dilengkapi dengan tenaga penggerak berupa mesin diesel, sejumlah pipa berdiameter 15 cm serta nenerapa alat tambahan berupa klem penyambung pipa-pipa tersebut. Penggunaan mesin pompa kecil masih efisien untuk ketinggian 4-5 lantai, selebihnya menggunakan tower crane. Dan untuk pompa besar dapat menjangkau lebih dari itu, dan biasa digunakan di lantai 15 ke atas agar efisiensi biaya berkaitan dengan harga borongan sewanya.

Gambar 4.4. Concrete Mixer Truck

   e.  Dum Truck

Dum Truck merupakan suatu alat yang dipergunakan untuk memindahkan atau membuang suatu material hasil galian dari lokasi proyek ke lokasi proyek yang telah ditetapkan kemana material tersebut itu dibuang / dijual. Pada saat membawa material hasil galian, bagian belakang dum truck ditutup dengan terpal dengan tujuan agar material tidak terjatuh dijalan raya dan debunya tidak menggangu pengguna jalan lain.

Gambar 4.5. Dum Truck

 

Dalam proyek ini kurang lebih dari 20 dum truck yang digunakan pada saat pekerjaan galian dan mobilisasinya pada saat malam hari dengan tujuan agar proses pemindahan / pengiriman material dapat lebih cepat dan lancar.

  2.  Alat – alat Survey  

   a.  Theodolith

Theodolith merupakan alat bantu dalam proyek untuk menentukan as bangunan dan titik-titik as kolom pada tiap-tiap lantai agar bangunan yang dibuat tidak miring. Alat ini dipergunakan juga untuk menentukan elevasi tanah  dan elevasi tanah galian timbunan. Cara operasionalnya adalah dengan mengatur nuvo dan unting-unting di bawah theodolith. Kemudian menetapkan salah satu titik sebagai acuan. Setelah itu, menembak titik-titik yang lain dengan patokan titik awal yang ditetapkan tadi.

Gambar 4.6 Theodolith

   b.  Waterpass

            Waterpass adalah alat yang digunakan untuk menetukan elevasi / peil lantai, balok, lain – lain yang membutuhkan elvasi. Alat ini sanagt berguna untuk mengecek ketebalan lantai saat pengecoran, sehingga lantai yang dihasilkan dapat datar. Selain itu, waterpass juga dapat digunakan untuk pengecekan bekisting pada kolom.

Gambar 4.7 waterpass

   c.  Sipatan ( Marker )

Sipatan merupakan alat yang digunakan untuk memberi tanda setelah pengukuran untuk marking setelah dilakukan. Bahan untuk sipatan ini adalah tinta yang seing disebut tinta Cina. Tinta ini dapat bertahan dalam waktu yang lamadan tidak mudah hilang atau luntur.

Gambar 4.8 Hasil Sipatan

  3.   Alat – alat fabrikasi

   a.  Bar Bender

Bar bender Merupakan alat yang digunakan untuk membengkokkan tulangan berdiameter besar, seperti pada pembengkokan tulangan sengkang, pembengkokan pada sambungan/overlap tulangan kolom, juga pada tulangan balok, plat, dan dinding geser. Bar bender dab bar cutter haruslah ada dalam suatu proyek besar karena untuk memenuhi kebutuhan pembesian baik itu precast atau pasang di tempat.

Gambar 4.9. Bar Bander

   b.   Bar Cutter

            Baja tulangan dipesan dengan ukuran-ukuran panjang standart. Untuk keperluan tulangan yang pendek, maka perlu dilakukan pemotongan terhadap tulangan yang ada. Untuk itu diperlukan suatu alat pemotong tulangan, yaitu gunting tulangan yang dioperasikan secara manual dengan menggunakan tenaga manusia.

Gambar 4.10. Bar Cutter

 

Bar cutter merupakan alat pemotong besi tulangan sesuai ukuran yangdiinginkan. Menurut tenaga penggeraknya, bar cutter ada 2  jenis :

1)  Bar Cutter manual

Bar Cutter manual adalah alat pemotong baja beton menggunakan penggerak tenaga manusia dengan kapasitas maksimum diameter 16 mm.

2)   Bar Cutter listrik

Keuntungan dari Bar Cutter listrik dibandingkan Bar Cutter manual adalah Bar Cutter listrik dapat memotong besi tulangan dengan diameter besar dengan mutu baja cukup tinggi disamping dapat mempersingkat waktu pengerjaan. Kemampuannya memotong dapat dilakukan sekaligus seperti tulangan diameter 10 mm dapat dilakukan pemotongan 6  buah sekaligus, 4 buah tulangan diameter 16 mm, 2 buah tulangan diameter 19 mm, 1 buah tulangan diameter 25 mm

  4.  Alat – alat Pelaksanaan Pengecoran

   a.  Vibrator

Pada pengecoran beton dibutuhkan kepadatan yang utuh sehingga tidak terdapat rongga dalam adukan beton, karena rongga tersebut dapat mengurangi mutu dan kekuatan beton. Dalam pelaksanaan pengecoran dibutuhkan vibrator yang fungsinya untuk memadatkan adukan beton pada saat setelah pengecoran.

Vibrator merupakan alat penggetar mekanik yang digunakan untuk menggetarkan adukan beton yang belum mengeras agar menghilangkan rongga-rongga udara, sehingga beton menjadi lebih padat. Cara operasionalnya dengan cara memasukkan selang penggetar ke dalam adukan beton yang telah dituang ke dalam bekisting.

Gambar 4.11.Vibrator

Yang perlu diperhatikan dalam penggunaan alat ini adalah :

  • Ujung belalai vibrator dimasukkan dalam adukan beton dengna posisi vertikal
  • Ujung vibrator diusahakan untuk tidak mengenai tulangan baja.
  • Penggetaran dilakukan sekitas 10-15 detik untuk datu posisi titik.
  • Penggetaran dilakukan selapis demi selapis untuk mendapatkan pemadatan yang diinginkan.
  • Ujung vibrator dicabut perlahan-lahan secara perlahan-lahan dari adukan sehingga bekasnya dapat meutup kembali.

  b.  Concrete Mixer

Concrete Mixer atau yang sering disebut molen berguna untuk mencampur dan mengaduk material beton agar lebih homogen. Adanya sirip – sirip pada bagian dalam drum, memungkinkan teraduknya material dari adukan beton secara merata pada waktu berputar. Alat ini digunakan khusus untuk volume pekerjaan yang relatif kecil dan non struktural seperti pembuatan lantai kerja, pmasangan batako, plesteran dan lain – lain. Drum pengaduk mempunyai dua macam kecepatan gerak, yaiti gerak untuk mengatur posisi drum dan gerak untuk mencampur adukan.

Gambar.4.12. Concrete Mixer

 

   c.  Trowel

Trowel adalah alat yang digunakan untuk menghaluskan permukaa beton pada plat lantai yang menggunakan floor hardener pada lapisan permukaannya. Permukaan beton yang telah ditaburi flour hardener diratakan dengan ruskam, kemudian trowel digunakan untuk menghaluskan permukaan tersebut.

 

Gambar 4.13. Trowel.

C.   Material

Didalam pelaksanaan suatu proyek, diperlukan adanya pengelolaan bahan dan peralatan yang baik untuk menunjang kelancaran pekerjaan. Penyimpangan terhadap bahan-bahan bangunan perlu mendapat perhatian khusus mengingat adanya bahan-bahan bangunan yang sangat peka terhadap kondisi lingkungan, seperti semen dan juga baja tulangan yang peka terhadap pengaruh air dan udara sekitar. Pengaturan dan penyimpangan bahan-bahan dan peralatan dalam proyek menjadi tanggung jawab bagian logistik dan gudang.

Mengingat rencana pekerjaan Proyek Pembangunan yang dibatasi oleh waktu, diusahakan penempatan material yang tepat dan seefisien mungkin sehingga dapat mempercepat dan mempermudah pekerjaan. Di samping itu, penempatan material yang baik dan tertata rapi akan mendukung efektifitas kerja dan keselamatan kerja.

  1.  Pasir (Agregat Halus)

Pasir digunakan untuk pekerjaan non struktural seperti pekerjaan pembuatan lantai kerja, plesteran, dan digunakan untuk campuran adukan beton yang dikerjakan di lapangan. Agregat halus yang digunakan sebagai bahan pengisi pada proyek ini harus memenuhi beberapa syarat berikut :

  1. Butiran – butiran pasir kasar, tajam dan keras, harus bersifat kekal ( tidak hancur karena pengaruh cuaca ).
    1. Pasir terdiri dari butir – butir yang beraneka ragam.
    2. Pasir tidak boleh mengandung zat organik terlalu banyak.
    3. Pasir laut tidak boleh digunakan di dalam semua mutu beton, kecuali dengan menggunakan petunjuk – petunjuk dari lembaga pemeriksaan bahan – bahan yang diakui.
  2. Mendapat persetujuan dari pengawas lapangan.

    Gambar.4.14. Pasir (Agregat halus)

2.  Agregat Kasar

Agregat kasar berupa butir – butir yang beraneka ragam besarnya dan apabila diayak harus memenuhi kriteria sisa di atas ayakan 31,5 mm harus 0 % berat, sisa di atas ayakan 4 mm harus berkisar antara 90 % sampai 98 % berat dan selisih antara sisa – sisa kumulatif di atas dua ayakan yang berurutan adalah maksimum 60 % dan minimum 10 % berat.

Adapun syarat – syarat dari agregat kasar adalah sebagai berikut :

  • Agregat kasar untuk beton dapat berupa kerikil sebagai hasil desintegrasi alami dari batuan – batuan atau berupa batu pecah yang diperoleh dari pemecahan batu.
    • Agregat kasar harus terdiri dari butir – butir yang keras dan tidak berpori.
    • Agregat kasar tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1 %.
    • Agregat kasar tidak boleh mengandung mengandung zat – zat yang dapat merusak beton.

 3.  Semen

Semen digunakan sebagai bahan pengikat dalam pekerjaan konstruksi, antara lain digunakan untuk  pasangan batu bata dan plesteran. Dalam proyek ini digunakan  Semen Gresik yang telah disetujui oleh pengawas. Hal – hal yang perlu diperhatikan dalam penyimpanan persediaan semen :

  1. Sebelum diangkut ke lapangan untuk digunakan,  semen harus dijaga agar tidak lembab.
  2. Dalam pengangkutan semen harus terlindung dari hujan dan zak (kantong) asli dari pabriknya dalam keadaan tertutup rapat.
  3. Tinggi tumpukan maksimum tidak lebih dari 2 m atau maksimal 10 zak. Hal ini untuk menghindari rusaknya semen yang berada pada tumpukan yang paling bawah akibat beban yang berat dalam waktu yang cukup lama sebelum digunakan sebagai bahan bangunan.
  4. Karena penimbunan semen dalam waktu yang lama juga akan mempengaruhi mutu semen, maka diperlukan adanya pengaturan penggunaan semen secara teliti. Sehingga dalam hal ini semen lama harus dipergunakan terlebih dahulu.

 

 4.   Air

Air untuk pembuatan dan perawatan beton tidak boleh mengandung minyak, asam, alkali, garam – garam, bahan – bahan organis atau bahan – bahan lain yang merusak beton dan baja tulangan. Dalam hal ini sebaiknya dipakai air bersih yang dapat diminum. Bilamana mungkin menggunakan air PDAM.

Gambar.4.15. bahan campuran beton

D.      Kendali mutu

Pengendalian mutu dalam suatu proyek merupakan hal yang penting, sebab akan menentukan kualitas dari hasil pelaksanaan apakah telah sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan. Tinjauan pengendalian dalam proyek yang harus diperhatikan adalah:  pengendalian mutu bahan dan peralatan, pengendalian tenaga kerja, pengendalian waktu, teknis, biaya serta pengendalian kesehatan keselamatan kerja (K3).

  1. 1.             Pengendalian Mutu Bahan

Kualitas bahan dalam pekerjaan sangat menentukan untuk bisa mencapai ketentuan dalam spesifikasi yang telah direncanakan, sehingga pengendalian mutu bahan sangatlah penting akan keberhasilan pembangunan dalam suatu proyek.

Standard yang ditetapkan oleh PT Davy Sukamta selaku konsultan perencana untuk standard  mutu bahan dalam pembangunan Apartemen Pakubuwono View, menggunakan dari American Concrete Institute (ACI), American Standard for Testing and Material (ASTM), Standard Nasional Indonesia (SNI).

   a.  Agregat

Untuk agregat yang akan digunakan untuk bahan beton dari pihak plant akan dilakukan uji lab apakah memenuhi syarat atau tidak dan dari pihak pelaksana akan meminta hasil tes tersebut. Jika dilakukan secara kasat mata, untuk mengetahui pasir tersebut bagus dengan cara menggenggam jika menggumpal berarti pasir tersebut tidak bagus.

  2.  Semen Portland

Pada semen porland butiran-butiran tidak boleh mengumpal keras, untuk penyimpanannya tidak boleh dalam keadaan lembab untuk lebih menjaga semen tetap baik maka diberi bantalan kayu sebagai tempat dibawahnya.

  3.  Besi

Merupakan material yang sangat penting dalam beton bertulang, sehingga perlu dijaga mutu dan kualitasnya. Dalam hal ini PT Bona Widjaja Gemilang bekerja sama dengan PT Master Steel selaku subkont besi tulangan. Untuk mengetahui mutu besi baik maka harus memenuhi syarat-syarat sebagi berikut :

  1. Bebas dari kotoran-kotoran, lapisan minyak, karat, dan tidak retak atau mengelupas.
  2. Mempunyai penampang yang sama rata.
  3. Ukuran disesuaikan dengan shop drawing.

Untuk tempat penyimpan sebaiknya diberi bantalan kayu dan  tempat yang kering unruk menghindari karat.

Gambar.4.16. Besi tulangan

  4.   Beton

Untuk pengujian mutu beton dilakukan dengan cara slump tes untuk pengujian dilapangan dan uji kuat tekan jika hasil slump sesuai spesifikasi. Untuk pengujian Crushing Test dilakukan oleh PT. PionirBeton Industri selaku subkont untuk beton readymix sedangkan untuk pengujiannya sendiri dilakukan di Concrete Laboratory-Pulo Gadung Plant.

 a.  Uji Slump

Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui kadar air beton yang berhubungan dengan mutu beton. Dalam proyek pembangunan Apartemen Pakubuwono View untuk pondasi. Pengujian dengan menggunakan kerucut Abrams, sebagai berikut :

1)  Menyiapkan kerucut abrans dengan diameter atas 10 cm, bawah 20 cm dan tinggi 30 cm yang diletakkan pada bidang datar namun tidak menyerap air.

2) Adukan beton yang akan diuji dimasukkan dalam tiga lapis sambil ditusuk 25 kali dengan tongkat baja agar adukan menjadi padat.

3) Setelah kerucut dibuka, kemudian diukur pada 3 tempat kemudian diambil rata-rata

4) Setelah kerucut dibuka, kemudian diukur pada 3 tempat kemudian diambil rata-rata

5) Adukan beton yang tidak sesuai dengan nilai slump   rencana akan direject.

 

   b.  Uji Kuat Tekan (Crushing Test)

Tes uji kuat tekan ini bertujuan untuk mengetahui kuat tekan beton karakteristik (kuat tekan maksimum yang dapat diterima oleh beton sampai beton mengalami kehancuran). Cara pengujiannya :

1)  Menyiapkan silinder berdiameter 15cm dengan tinggi 30 cm, yang telah diolesi pelumas pada bagian dalam.

2)  Kemudian adukan beton dimasukkan ke silinder dalam tiga lapis sambil ditusuk-tusuk hingga 30 kali.

   3)  Cetakan yang telah diberi kode itu kemudian didiamkan 24 jam dan direndam dalam air (curing) selama 7 hari. Setelah itu barulah diuji dengan crushing test.

Gambar 4.17. Sampel Siap Uji

 

  2.   Pengendalian Mutu Peralatan

Perawatan akan peralatan merupakan hal yang penting untuk kelancaran pelaksanaan pekerjaan. Peran mekanik akan sangat berguna untuk mencegah tertundanya pekerjaan akibat dari kerusakan peralatan. Akan tetapi jika kerusakan sudah tidak dapat ditangani oleh para mekanik, maka peralatan tersebut  akan dikirim ke bengkel pusat.

Untuk menghindari penundaan waktu maka pelaksana harus mempunyai cadangan yang dapat digunakan secara cepat seperti ketika pengecoran dilaksanakan, concrete pump yang digunakan sebanyak 4 buah dengan ditambah 1 buah concrete pump dalam keadaan stanby.

  3.   PengendaliaN TENAGA KERJA

Tenaga kerja dalam suatu proyek merupakan hal yang mutlak. Penempatan tenaga kerja yang sesuai dengan jumlah dan kemampuannya dapat menunjang tercapainya efisiensi dalam suatu pekerjaan proyek, oleh karena itu diperlukan suatu pengendalian mutu tenaga kerja. Pemilihan mandor untuk melaksanakan pekerjaan secara borongan haruslah tepat. Maka tim pelaksana harus hati-hati dalam pemilihan mandor, sebab akan menentukan mutu sekaligus ketepatan waktu selesai proyek.

Setiap tenaga kerja yang dibawa oleh para mandor haruslah sudah mempunyai pengalaman yang sesuai dengan keahliannya, seperti pembesian, pembobokan, bekisting hingga pengecoran.

  4.   Pengendalian WAKTU

Untuk menghindari adanya keterlambatan pelaksanaan maka perlunya pengendalian waktu yang berdasarkan pada time schedule pekerjaan. Keterlambatan pekerjaan pada suatu proyek akan berpengaruh pada cost. Maka untuk mempermudah pelaksaan dilapangan, manager sebaiknya membuat schedule yang lebih sederhana akan tetapi tetap mengacu pada time schedule yang dikeluarkan oleh engineering sebab  tidak semua paham akan pembacaan master schedule. Agar dapat berlangsung tepat waktu, maka time schedule digunakan sebagai kontrol untuk mengatur tingkat prestasi pekerjaan dengan lamanya pelaksanaannya. Sehingga pekerjaan apa yang harus dikerjakan lebih dahulu dan kapan harus dimulai dapat terjadwal dengan baik, sehingga kemungkinan keterlambatan dapat diperkecil.

Manfaat dari time schedule antara lain :

  • Sebagai pedoman kerja bagi pelaksana terutama menyangkut batasan waktu dan pelaksanaan tiap pekerjaan yang dilaksanakan.
  • Sebagai koordinasi bagi pimpinan proyek terhadap semua pelaksanaan pekerjaan.
  • Sebagai tolak ukur kemajuan pekerjaan di setiap harinya, sehingga progress report setiap waktu dapat dilihat.
  • Sebagai evaluasi tahap akhir dari setiap pelaksanaan pekerjaan.

Setiap item pekerjaan pada time schedule mempunyai prosentase bobot sendiri-sendiri sedangkan Time schedule menyatakan pembagian waktu terperinci untuk setiap jenis pekerjaan, mulai dari permulaan sampai akhir pekerjaan sehingga kumulatif prosentase bobot pekerjaan ini akan membentuk kurve S. Untuk kurva S terdiri dari kurva S rencana dan kurva S realisasi. Fungsi kurva S adalah :

  • Menentukan waktu penyelesaian tiap bagian pekerjaan proyek.
  • Menentukan besarnya biaya pelaksanaan proyek.
  • Mengetahui progress pekerjaan yang dihasilkan dilapangan dengan perencanaan, sehingga dapat menjadi bahan evaluasi.

  5.   Pengendalian TEKNIS PEKERJAAN

Pada pelaksanaana dilapangan biasanya akan mengalami problem pada item pekerjaaan tertentu. Pengendalian Teknis Pekerjaan menunjukkan tahap untuk pengawasan dan kontrol terhadap kualitas pekerjaan. Hal ini memerlukan suatu menajemen kualitas agar hasil pekerjaan dapat tercapai mutu sesuai rencana proyek. Jika permasalahan  yang dihadapi memerlukan perhitungan teknis maka pihak engineering akan membuat metode repair yang kemudian akan diajukan terlebih dahulu kepada konsultan perencana . Namun apabila problem yang dihadapi tidak memerlukan perhitungan teknis seperti melendutnya bekisting, biasanya dari pihak pelaksana dan dibantu oleh konsultan pengawas akan segera mencari pemecahannya.Dalam pengendalian mutu ini peran QC (Quality Control) akan sangat berperan, QC akan mendampingi supervisor dalam pelaksanaan dilapangan.

Untuk pengendalian teknis memerlukan analisis permasalahan yang timbul dilapangan sesuai yang diamati, begitu juga langkah yang akan diambil sebagai penyelesaian dari  problem yang ada. Adapaun beberapa problem yang terjadi dapat dijelaskan  berikut ini.

a Permasalahan : Bekisting mat foundation  melendut ke dalam
Penyebab : Adanya tekanan ke dalam dari tanah urug
Pemecahan : -Urugan diurug kembali
-Bekisting didorong dari dalam kemudian              ditahan, jika perlu bekisting dibongkar kembali
-Untuk tulangannya ditarik menggunakan chain block.

 

Gambar 4.18. Penggunaan Chain Block

b Permasalahan : Tulangan Pancang < 1 m
Penyebab : Pengangkatan bobok pancang yang salah
Pemecahan : Penambahan tulangan dengan metode Chemset

 

Gambar 4.19.Pengeboran             

Gambar 4.20. Pembersihan lubang


  Gambar 4.21 Pemberian chemical           

Gambar 4.22.Pemberian Tulangan

c Permasalahan : Layer atas pembesian turun
Penyebab : Kurang tingginya tulangan cakar ayam
Pemecahan : Tulangan mat foundation layer atas ditarik dengan bantuan Tower Crane

Gambar 4.23. Pengangkatan Pembesian dengan TC

d Permasalahan : Tulangan kolom bergeser
Penyebab : Tekanan dari beton saat pengecoran
Pemecahan : Perhitungan dilakukan oleh pihak engineering (Lihat Lampiran)
1. Dengan penambahan dimensi kolom
2.Tulangan di bagian tertentu di bending.

  6.   PROGRESS REPORT

Pengendalian hasil pekerjaan di lapangan dimaksudkan untuk mengetahui perkembangan dan permasalahan di proyek melalui laporan kemajuan dan koordinasi proyek. Laporan kemajuan proyek dikerjakan secara berkala untuk mengetahui sejauh mana kemajuan dari proyek itu.

   a.  Laporan Harian                      

Laporan harian dibuat setiap hari secara tertulis oleh pihak pelaksana proyek dalam melakukan tugasnya dan dalam mempertanggungjawabkan terhadap apa yang telah dilaksanakan serta untuk mengetahui hasil kemajuan pekerjaannya apakah sesuai dengan rencana atau tidak. Laporan ini dibuat untuk memberikan informasi bagi pengendali proyek dan pemberi tugas melalui direksi tentang perkembangan proyek. Dengan adanya laporan harian ini, maka segala kegiatan proyek yang dilakukan tiap hari dapat dipantau.

Laporan harian berisikan data – data antara lain :

1)   Waktu dan jam kerja

2)  Pekerjaan yang telah dilaksanakan maupun yang belum

3)  Keadaan cuaca

4)  Bahan – bahan yang masuk ke lapangan

5)  Peralatan yang tersedia di lapangan

6)  Jumlah tenaga kerja di lapangan

7)  Hal – hal yang terjadi di lapangan

  b.  Laporan Mingguan                                                    

Laporan mingguan bertujuan untuk memperolah gambaran kemajuan pekerjaan  yang telah dicapai dalam satu minggu yang bersangkutan, disusun berdasarkan laporan harian selama satu minggu tersebut. Laporan mingguan berisikan antara lain :

1)  Jenis pekerjaan yang telah diselesaikan.

2)  Volume dan prosentase pekerjaan dalam satu minggu itu.

3)  Catatan – catatan lain yang diperlukan.

Prosentase pekerjaan yang telah dicapai sampai dengan minggu tersebut dapat diketahui dengan memperhitungkan semua laporan mingguan yang telah dibuat, ditambah dengan bobot prestasi pekerjaan yang telah diselesaikan pada minggu itu. Dari prosentase pekerjaan yang telah dicapai pada minggu ini kemudian dibandingkan dengan prosentase pekerjaan yang telah dicapai pada minggu yang bersangkutan, maka akan diketahui prosentase keterlambatan atau kemajuan yang telah diperoleh. Laporan mingguan tidak dapat dipisahkan dengan time schedule pelaksanaan pekerjaan yang telah disusun oleh pihak Kontraktor Utama dengan persetujuan Project Manager.

  c.  Laporan Bulanan                                                     

Laporan bulanan pada prinsipnya sama dengan laporan mingguan, yaitu untuk memberikan gambaran tentang kemajuan proyek. Untuk tujuan itu dibuatlah rekapitulasi laporan mingguan maupun laporan harian dengan dilengkapi foto – foto  pelaksanaan pekerjaan selama bulan yang bersangkutan. Laporan bulanan dilaporkan kepada Pemilik Proyek (Owner).

  d.  Rapat Koordinasi Bulanan                                     

Rapat koordinasi bulanan diadakan dengan dihadiri oleh panitia pembangunan, Owner, Konsultan Perencana, Konsultan Pengawas dan Kontraktor Utama. Dalam rapat ini dibahas hal – hal yang berhubungan dengan  pelaksanaan serta masalah – masalah  teknis yang timbul di lokasi proyek dan perkembangan proyek yang sedang berjalan serta koordinasi masing – masing  unsur proyek yang terlibat langsung.

  7.   Pengendalian BIAYA

Perlunya pengendalian biaya adalah untuk dapat mengetahui jumlah biaya dengan realisasi pekerjaan. Fungsi dari pengendalian biaya agar dari Rencana Anggaran Biaya (RAB) tidak membengkak dalam pelaksanaannya. Jikapun adanya pembengkakan maka perlunya evaluasi biaya.

Salah satu penyebab terjadinya pembengkakan biaya adalah adanya kesalahan dalam pelaksanaan dilapangan sehingga membutuhkan perbaikan yang tentu saja menambah biaya dari segi biaya material maupun tenaga kerja, maka untuk menghindari adanya pembengkakan biaya yaitu dengan cara melakukan pelaksanaan dilapangan dengan baik dan hati-hati.

Pengendalian biaya ini biasanya dilakukan dengan membuat rekapitulasi biaya yang telah dikeluarkan. Setiap dilakukan pembelian material, bagian logistic mencatat jumlah material yang dibeli dan besarnya biaya yang dikeluarkan. Sedangkan pengendalian biaya tenaga kerja dilakukan dengan memeriksa daftar presensi pekerja selam satu minggu dan besarnya biaya yang dikeluarkan untuk membayar gaji pekerja. Besar total biaya ini yang akan selalu dikontrol dan dievaluasi sebagai pengendalian biaya. Selain itu, total biaya yang telah dikeluarkan ini juga dapat digunakan untuk menyusun kurva-S realisasi dan untuk mengestimasi prosentase pekerjaan proyek yang telah dicapai.

  8.   Pengendalian K3

Jaminan keselamatan dan kesehatan kerja sangat diperlukan untuk melindungi para pekerja dari segala kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja. Perlindungan tenaga kerja dalam suatu proyek dimaksudkan agar tenaga kerja dapat bekerja dengan aman dalam melakukan pekerjaannya. Target K3 sendiri adalah ‘zero accident’ selama pelakasanaan di lapangan sehingga perlunya penyusunan:

   a.  Safety Plan

Identifikasi bahaya kerja, dan penanggulangannya, rencana penempatan alat-alat pengamanan seperti pagar pengaman, jarring pada tangga dan tepi bangunan, railing serta rambu-rambu K3 serta rencana penempatan alat-alat kebakaran (tabung pemadam api), dan lain-lain.

   b.  Security Plan

Prosedur keluar masuk bahan proyek, prosedur penerimaan tamu, identifikasi daerah rawan di wilayah sekitar proyek, dan prosedur komunikasi di proyek.

   c.  House Keeping

lokasi penempatan dan jumlah toilet pekerja, tempat sementara penimbunan material bekas, pengaturan kantor, jalan sementara, gudang, barak pekerja dan lain-lain.

Pada proyek pembangunan Apartemen The Pakubuwono View ini, hal – hal tentang kesejahteraan dan keselamatan kerja sudah diperhatikan, yaitu dengan adanya alat – alat, perlengkapan, dan fasilitas yang berhubungan dengan masalah kesejahteraan dan keselamatan kerja. Meskipun masih terjadi pelanggaran-pelanggaran yang dilakukun oleh pekerja meski telah diberi rambu peringatan.

E.  Pembahasan Pelaksanaan

  1.  DEWATERING

   a.  Pendahuluan

Pada pembangunan gedung bertingkat yang tingginya lebih dari lima lantai biasanya sering dibuat basement dengan alasan untuk menambah ruangan atau sering juga digunakan sebagai lahan parkir. Untuk melaksanakan basement, maka penggalian tidak dapat dihindarkan dan bilamana permukaan air tanah lebih tinggi dari rencana lantai basement, maka pemompaan harus dilakukan sebagai upaya untuk pengeringan lahan agar memungkinkan pelaksanaan konstruksi. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah ini adalah dengan menggunakan metode pengatusan dengan pemompaan, di mana sistem pemompaan tersebut dilakukan dengan dewatering sistem sumur titik ( well point system ).

Dewatering merupakan suatu pekerjaan yang diperlukan untuk mengeringkan lahan galian di bawah muka air tanah dan untuk mengatasi gaya uplift selama masa konstruksi basement. Pekerjaan dewatering mutlak diperlukan sampai bangunan selesai atau berat konstruksi bangunan dapat mengimbangi gaya uplift. Selain itu, dewatering juga diperlukan untuk menanggulangi bila terjadi genangan pada konstruksi basement atau pondasi, baik akibat air hujan ataupun rembesan air tanah. Dewatering dioperasikan selama 24 jam selama pekerjaan basement.

Pada  proyek Apartemen The Pakubuwono View Tower B & C ini digunakan enam sumur dewatering, dua sumur piezometer, dan empat sumur recharging. Masing – masing sumur tersebut dibor sampai pada kedalaman minus 20 meter dengan diameter sumur 8” dan diameter casing PVC 6” untuk sumur dewatering; diameter sumur  4” dan diameter casing 2,5” untuk sumur  piezometer; dan diameter sumur  8” dan diameter casing 6” untuk sumur recharging. Penentuan banyaknya jumlah sumur yang digunakan mengacu dari :

  • Data spesifikasi teknis rencana bangunan, luas galian, dan kedalaman galian
  • Data penelitian tanah dan pumpimg test
  • Pertimbangan kondisi lahan di sekitar proyek
  • Pengalaman sejenis yang telah dilakukan

Gambar 4.24. Sumur Dewatering


Gambar 4.25. Sumur Piezometer

 

Gambar 4.26. Sumur Recharging

  b.    Metode Pelaksanaan

Metode pelaksanaan dan pekerjaan persiapan dewatering system well point dapat dijelaskan sebagai berikut :

1)  Penentuan Titik Dewatering

Semua titik dewatering dibuat berada di dalam area galian, di mana titik – titik tersebut ditentukan oleh pemberi tugas dengan dibantu team surveyor agar letak sumur dewatering tidak berada pada posisi pondasi atau pile cap.

2)  Penentuan Titik Piezometer

Titik piezometer dipasang pada sisi rencana bangunan proyek.

Gambar 4.27. Lokasi Sumur Dewatering dan Piezometer

   3)  Pembuatan Pit dan Saluran

Pembuatan pit dan saluran dilakukan di dalam pelaksanaan galian. Dalam hal ini, melihat kondisi lapangan pada prinsipnya saluran dan pit berguna untuk melokalisir air agar tidak menggenang sehingga tidak mengganggu kontraktor galian dalam bekerja atau pekerjaan lantai kerja. Saluran dibuat disepanjang tepi galian di dalam area galian oleh kontraktor galian. Kemudian setiap jarak ± 40 meter dibuatkan pit dan standby pompa permukaan.

4)  Sistem Saluran Pembuangan

Sistem saluran pembuangan dibuang sebagian ke sumur recharging dan air pemompaan piezometer akan diendapkan di bak penampungan air.

   5)  Monitoring

Monitoring dilakukan selama 24 jam setiap pagi dan sore, dan dicatat ketinggian air tanahnya. Monitoring dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui ketinggian air tanah, sehingga dapat diketahui apakah terjadi penurunan tanah atau tidak. Selain itu, staff dewatering juga mengikuti aktifitas pekerjaan galian untuk memindahkan jalur listrik dan jalur pemipaan / selang yang dapat rusak atau mengganggu kegiatan operasional galian, dan membantu sepenuhnya pekerjaan galian agar tidak terhenti oleh gangguan air tanah.

Gambar 4.28. Form Monitoring

  c.  Metode Teknis

   1)  Data Teknis

Data – data teknis pekerjaan dewatering proyek Apartemen The Pakubuwuno View Tower B & C adalah sebagai berikut:

  • Jumlah sumur dewatering          : 6 titik
  • Kedalaman                                 : minus 20 meter
  • Elevasi Screen                            : – 12 meter s.d. – 18 meter
  • Diameter sumur dewatering       : 8 inchi
  • Diameter casing PVC                : 6 inchi
  • Filter / saringan                          : G level
  • Kapasitas pompa                        : ± 300 liter / menit
  • Jarak antara sumur dewatering  : 40 meter

Dengan menurunkan permukaan air di dalam sumur sampai kedalaman minus 14 meter dengan sistem pemompaan tersebut di atas akan dapat mengeringkan lahan galian. Apabila di dalam pelaksanaan masih ada genangan air tanah, maka digunakan sistem dewatering dengan pit pada beberapa lokasi dengan dibuatkan parit – parit yang berfungsi sebagai subdrain yang mengalirkan air ke parit – parit tertentu. Parit – parit ini diisi dengan batu kerikil dan pada saat pengecoran ditutup dengan plastic agar dapat dibuatkan lantai kerja.

2).        Konstruksi Sumur Dewatering

Pekerjaan ini dilakukan dengan tahap – tahap sebagai berikut :

a)   Penentuan titik dewatering dan elevasi oleh tim surveyor

b)                 Pengeboran dengan alat mesin bor dengan sistem wash boring sampai pada kedalaman minus 20 meter dengan diameter 8 inchi

c)  Pemasangan casing PVC dengan diameter 6 inchi

d)  Pengisian grevell antara casing dengan dinding bor yang berfungsi sebagai filter

e)  Instalasi pompa submersible beserta perlengkapan elektroda pipa galvanis dan kabel listrik

f)  Instalasi listrik dari PLN ke panel induk dan panel otomatis pompa

g)  Instalasi plumbing ( selang dan pemipaan ) dan pemompaan dewatering siap difungsikan

Gambar 4.29. Konstruksi Sumur Dewatering

 

  3)  Konstruksi Sumur Piezometer

Tahapan pekerjaan pembuatan sumur piezometer atau sumur pengamatan sama halnya dengan sumur dewatering, hanya perbedaannya pada diameter boring dan casing. Sumur piezometer ini memiliki diameter boring 4 inchi dengan diameter casing 2,5 inchi. Adapun fungsi sumur piezometer ini untuk memantau penurunan permukaan air tanah akibat pemompaan dewatering.

Gambar 4.30. Konstruksi Sumur Piezometer

   4)  Penutupan Sumur Dewatering

Penghentian sumur dewatering dilaksanakan setelah beban uplift akibat air tanah telah seimbang dengan berat konstruksi. Oleh karena itu, penggunaan sumur dewatering  tidak digunakan kembali. Pada saat sumur dewatering tidak digunakan kembali, maka lubang sumur tersebut harus segera ditutup. Adapun konstruksi penutupan sumur sebagai berikut :


Gambar 4.31.
Konstruksi Penutupan Sumur

 

 

  2.  PEKERJAAN GROUND ANCHOR

  a.   Pendahuluan

Ground Anchor adalah bangunan yang berfungsi sebagai penahan tanah agar tidak mengalami longsor atau sliding akibat adanya beban yang bekerja di sekitar tanah tersebut. Pada proyek Apartemen The Pakubuwono View Tower B & C ini diperlukan ground anchor dan dipasang pada sisi – sisi galian karena letaknya berbatasan langsung dengan gedung – gedung yang telah ada sebelumnya ( Gedung Simprug Mobil Showroom pada sisi utara dan SMA 29 Jakarta pada sisi selatan ). Dengan adanya ground Anchor  tersebut diharapkan tanah tidak mengalami longsor akibat beban yang berasal dari gedung – gedung sekitar dan tidak terjadi penurunan tanah pada gedung – gedung di sekitar proyek tersebut. Jumlah ground anchor pada proyek ini ada 41 titik dan terbagi menjadi 2, yaitu 24 titk di sisi Utara Tower C ( Simprug Mobil Showroom ) dan 17 titik di sisi Selatan Tower B ( SMA 29 Jakarta ). Pekerjaan ground anchor ini memakan waktu selama 9 hari mulai tanggal 16 Juli 2008 sampai dengan tanggal 24 Juli 2004, di mana setiap harinya rata – rata dapat diselesaikan 4 titik / alat.

Gambar 4.32. Ground Anchor

           

   b.  Metode Pelaksanaan

Metode pelaksanaan ground anchor dapat dijelaskan sebagai berikut :

1)   Penentuan Elevasi dan Marking

Proses ini dilakukan untuk menentukan ground anchor dan posisi capping beam pada posisi yang sesuai dengan gambar shop drawing.

2)  Pengecoran Capping Beam

Pengecoran capping beam dilakukan setelah didapat elevasi, marking, dan pemasangan bekisting. Capping beam dibuat tiap jarak 4,2 Meter dengan dimensi 40 x 40 cm. Mutu Beton yang digunakan K – 375.

3)  Pekerjaan Persiapan

Persiapan yang dilakukan adalah menyediakan alat – alat yang digunakan untuk proses drilling, grouting, maupun stressing.

4)  Pekerjaan Drilling Tanah

Jenis pengeboran yang digunakan pada proyek ini adalah rotary drilling, di mana mesin bor tersebut duduk di atas tanah / platform. Kotoran atau Lumpur hasil pengeboran dari lubang bor dengan menyemprotkan air ke dalam lubang bor. Diameter pengeboran 20 cm sampai kedalaman 30 meter dengan kemiringan sudut 45°.

5)  Instalasi Tendon Anchor

            Strand yang digunakan adalah 7 – wire strand berdiameter 12,7 mm. perakitan tendon dilakukan di proyek. Tendon dimasukkan ke dalam lubang dengan cara manual. Sebelum instalasi tendon dilakukan, air bertekanan disemprotkan ke dalam lubang untuk mengeluarkan lumpur sisa pengeboran.

6)  Grouting Tendon Anchor

Pekerjaan grouting dilakukan setelah pengeboran selesai dan dilakukan pada hari yang sama atau dalam kurun waktu paling lambat satu hari setelah pengeboran selesai. Komposisi material grouting yang digunakan adalah 1 zak portland cement ( 1 zak = 50 kg ) + 20 liter air + 225 gram grout additive ( cebex 100 ), dengan water cement ratio 0,45.

7)  Stressing Tendon Anchor

Alat yang digunakan untuk penarikan tendon anchor adalah satu unit hydraulic pump dan satu unit Jack Freyssinet, yang sesuai dengan tipe tendon anchor dan gaya yang bekerja pada tendon tersebut. Operasional penarikan tendon anchor di proyek dicatat dalam suatu lampiran stressing record yang mencatat pressure gaya pada Hydrolick Jack dan panjang elongasi yang terjadi pada strand. Mutu grouting minimal saat stressing adalah 30 MPa. Stressing yang dilakukan untuk setiap  ground  anchor  adalah  dua  cycle  ( 125 % dari gaya yang bekerja ) dan satu lock off  ( 110 % dari gaya yang bekerja ).

Gambar.4.33. Proses Stresing

   c.  Pelepasan Kepala Anchor

Setelah semua pekerjaan di atas selesai, maka ground anchor sudah berfungsi seperti yang direncanakan. Fungsi ground anchor dapat ditiadakan apabila bangunan sudah berdiri dan diapraghma wall sudah terhubung dengan struktur. Biasanya head anchor akan dilepas / direalase pada saat ground anchor tidak difungsikan lagi, tapi terkadang owner tidak menginginkan head anchor untuk dilepas. Jadi, pekerjaan realease anchor tergantung pihak owner.

  3.  MATFOUNDATION TOWER B

   a.  Pendahuluan

Mat Foundation adalah pondasi dangkal yang memiliki luasan / bentuk menyerupai maras. Pekerjaan mat foundation tower B ini merupkan pekerjaan mass concrete karena pondasi akan dicor memiliki volume 2616 m³. Mass Concrete adalah pengecoran satu area dengan volume yang sangat besar dan dilakukan secara terus – menerus. Mass Concrete  merupakan salah satu alternatif pengecoran dengan volume yang sangat besar atau kecil secara terus – menerus untuk mengecor sejumlah volume beton yang dipengaruhi oleh faktor teknik dan ekonomi.

Pertimbangan utama dalam melaksanakan penngecoran secara besar – besaran adalah kontrol terhadap panas yang dihasilkan dari proses hidrasi akibat Massa beton yang besar yang dapat mengakibat retak dan akibat dari waktu pengecoran yang lama dapat menimbulkan cold joint. Akibat kenaikan temperatur dalam beton tersebut dan juga suhu keseluruhan kontruksi ketika beton menjadi dingin secara berangsur – berangsur, dapat menimbulkan terjadinya retak. Perubahan suhu maksimum ( Thermal shock ) yang dapat menyebabkan retak ( Thermal Cracking ) adalah 40º C antara temperature beton dengan lingkungan dan adanya perbedaan temperature beton lebih dari 20º C.

Sebagai upaya untuk mengantisipasi hal tersebut diatas adalah dengan menghitung faktor – faktor sebagai berikut :

  • Kemampuan produsen ready mixed menyediakan volume beton dalam jumlah besar dan dalam waktu yang cepat, dengan memperhitungakan durasi pelaksanaan dan kesiapan sumberdaya.
  • Karakter beton yang dipergunakan, dengan memperhitungkan kandungan semen, jenis agregat dan kemungkinan pemakaian bahan campuran ( admixture ) dan lain – lain.
  • Pengendalian temperatur, dengan melakukan perawatan beton (Curing) secara efektif disesuaikan dengan keadaan cuaca sekitarnya pada saat pengecoran, selain itu perlu pengadaan tulangan distribusi yang memadai untuk mengontol retak awal.

   b.  Dasar Teori

    1)  Definisi Mass Concrete

Berdasarkan ACI 207 : Mass Concrete adalah segala volume beton dengan dimensi yang cukup besar sehingga perlu pengendalian thermal terhadap panas yang ditimbulkan oleh proses hydrasi semen

2)  Retak Thermal

Terjadinya retak thermal karena bagian beton dipermukaan yang mendingin lebih cepat oleh pelepasan panas di udara mengalami kontraksi dan menjadi kekangan terhadap pengembangan volume beton bagian dalam yang panas. Perbedaan suhu beton antara lapisan bawah, tengah dan atas ≤ 200 C

Sebagai upaya untuk mengatasi retak thermal tersebut, dalam mass concrete perlu memperhitungkan faktor-faktor berikut :

a)  Kontinyuitas supply yaitu kemampuan produsen readymix menyediakan beton dalam jumlah yang besar dan dalam waktu yang cepat dengan memperhiungkan durasi pelaksanaan dan kesiapan sumber daya.

Beberapa hal yang mempengaruhi kontinyuitas pengiriman :

  1. Persiapan alat, personel dan infrastruktur proyek (jalan akses, lahan parkir dan maneuver truck mixer serta area cuci truck mixer).
  2. Kapasitas batching plan. Kapasitas batching plan harus ≥ 1 kapasitas bongkar proyek.
  3. Cycle time dari batching plan ke lokasi proyek. Cycle time terdiri dari :

Waktu loading beton

  1. Waktu perjalanan berangkat ke lokasi proyek
  2. Waktu parker, manuver dan tunggu di proyek
  3. Waktu bongkar (COR)
  4. Waktu cuci truck mixer di proyek
  5. Waktu perjalanan pulang dari proyek menuju batching plan
  6. Jumlah kebutuhan minimal truck mixer.

a)        Karakter beton yang dipergunakan dengan memperhitungkan, kandungan semen, kandungan fly ash jenis agregat dan kemungkinan pemakaian bahan campuran (admixture), dll.

b)        Penggunaan jenis semen tertentu dapat mempengaruhi karakteristik beton untuk mass concrete, karena itu hanya semen yang cukup sesuai harus digunakan untuk mendapatkan kekuatan yang dikehendaki. Maka dalam hal ini diusulkan untuk digunakan semen type I dengan fly ash dengan prosentase sesuai persyaratan dan kebutuhan. Dalam hal ini penggunaan fly ash adalah maksimal 25 % dari jumlah material cementitiuos.

c)        Mix Design menggunakan spesifikasi sebagai berikut (sesuai spesifikasi teknis dan ACI 21.1.1) :

  1. Mutu beton adalah fc. 27,5 Mpa.
  2. Prosentase fly ash 23 %
  3. Suhu on site ≤ 300 C.
  4. Water Cement Ratio = 0.45
  5. Slump 14 ± 2 (12 – 16) cm.
  6. Initial setting time 7 jam.

   c.  Metode Pelakasanaan

Metode pelaksanaan Mat Foundation tower B dapat dijelaskan sebagai berikut :

  1. 1.                  Galian Tanah Area Mat Foundation

Galian tanah area mat foundation dilaksanakan sesuai shop drawing dengan kedalaman 250 cm dari elevasi lantai dasar basement – 3, akan tetapi pada dasar mat foundation ditambah 5 cm untuk lantai kerja dan pada galian samping masing – masing diberi penambahan 15 cm yang digunakan untuk bekisting dari pasangan batako, galian pada area ini dilakukan dengan bantuan backhoe, sedangkan untuk area yang sulit dijangkau backhoe dilakukan dengan tenaga manusia.

 

Gambar 4.34. Galian dengan menggunakan backhoe

   2.   Bobok dan Pemotongan Kepala Bored Pile

Setelah proses pengggalian selesai, maka akan bampak kepala – kepala bore pile yang sudah tertanam sebelumnya ( pekerjaan bored pile dikerjakan oleh kontraktor lain ). Kemudian kepala pancang yang tampak tersebut akan dipotong hingga ketinggian besi tulangan minimal satu meter dari dasar. Sebelum proses pemancangan dilakukan, terlebih dahulu kepala – kepala pancang dilakukan, terlebih dahulu kepala – kepala pancang tersebut di bobok agar besi tulangannya dapat terpisah dari beton. Proses pemotangan pancang ini dilakukan dengan bantuan tower crane dengan tujuan mempermudah pengangkatan dari area mat foundation, selain itu juga mempermudah waktu pelaksanaannya.

(a)

(b)

Gambar 4.35. (a) Bobok Pancang      (b) Pemotongan Pancang dengan TC

   3.  Penyemprotan Anti Rayap

Penyemprotan anti rayap dilakukan sebelum lantai kerja dibuat. Daerah – daerah yang disemprotkan antara lain seluruh lapisan bawah dan dinding samping mat foundation. Penyemprotan anti rayap ini dilakukan dengan tujuan untuk memberikan penghalang kimia atara kontruksi bangunan dan tanah, sehinga melindungi bangunan dari serangan rayap. Material yang digunakan adalah STEDFAST 15 EC dengan komposisi satu liter stedfast 15 EC dicampur dengan 50 liter air. Aplikasi untuk 1m memputuhkan lima liter campuran. Pada waktu penyemprotan anti rayap ini kondisi tanah harus kering / tidak ada genangan air.

Gambar.4.36 Stedfast penyemprot Anti rayap

 

   4.  Pekerjaan Lantai Kerja

Pekerjaan lantai kerja dilaksanakan setelah seluruh lapisan bawah mat foundation diratakan dan disemprotkan dengan anti rayap. Pekerjaan lantai kerja dilaksanakan selambat – lambatnya satu hari setelah penyemprotan anti rayap. Pekerjaan lantai kerja dibuat dengan ketebalan 50 mm. material beton yang digunkan adalah material beton ready mix B-0. Mutu beton B-0 adalah K-125. Penentuan ketebalan lantai kerja diketahui dengan menggunkan alat elevasi level dengan bantuan tim Surveyor.

Gambar.4.37. Pengecoran lantai kerja

    5.  Pekerjaan Bekisting

Pekerjaan Bekisting dikerjakan pada sisi mat foundation dari material batako setinggi dua meter dan stop cor stinggi 500 mm untuk posisi starter bar bagian pembesian slab basement – 3. Pemasangan batako untuk dinding bekisting mat foundation ini dikerjakan dalam dua tahap yaitu tahap pertama dinding batako dipasang setinggi 1200 mm, dan tahap kedua dinding batako dipasang lagi setinggi 800 mm dari tinggi tahap pertama. Hal ini dilakukan untuk meghindari rubuhnya dinding dari longsoran tanah diatasnya. Dalam pemasangan batako ini, seluruh permukaannya harus dipasang secara rapat dan rata atau tidak beloh berongga.

 

Gambar.4.38. Pemasangan Batako

Gambar 4.39 . Isometri

   6.  Pekerjaan Pembesian

Pembesian dilaksanakan setelah seluruh area mat foundation dibersihakan dari kotoran atau bekas – bekas material yang berserakan dengan menggunakan air compressor. Mutu besi tulangan yang digunakan adalah U50 ( fy = 5000 kg/ cm ) dan pengikat atar besi digunakan kawat bendrat.

Pemasangan pembesian terdiri dari beberapa pekerjaan anara lain :

   a . Pembesian Layer Bawah

Pembesian layer bawah terdiri dari tulangan menerus pada arah x dan ditambah tulangan extra  pada arah x dan y. penggunaan tulangan extra berfunsi sebagai perkuatan didaerah tertentu yang mempunyai bahan lebih besar dari daerah lain, seperti didaerah corewall yang berguna untuk Manahan beban angina ataupun beban akibat gempa bumi. Penyusunan tulangan tersebut disusun dalam empat lapis . lapis pertama terdiri atas tulangan menerus arah x dan besi D32 – 200 mm; lapis kedua terdiri dari tulangan menerus arah y dengan besi D32 – 200 mm ditambah tulangan sebagian selain tulangan ekstra arah x dengan besi D22, D29, dan D32 tiap jarak 400 mm; lapis keempat terdiri atas tulangan ekstra arah y dengan besi D22, D29, dan D32 tiap jarak 400 mm

 

Gambar 4.40. Pembesian layer bawah

  1. b.                 Pemasangan Kaki ayam

Untuk menghubungkan antara layer atas dengan layer bawah diperlukan kaki ayam. Kaki ayam sendiri menggunakan besi D25 dengan tinggi ± 2 meter, dimana bagian bawah dari kaki ayam tersebut diikatkan pada pembesian layer bawah menggunakan kawat bendrat. Kaki ayam dipasang setiap jarak 2 meter untuk arah y dan 2,4 untuk arah x.

Gambar 4.41. Pemasangan Kaki ayam

   c. Pembesian Layer Atas

Pembesian layer atas pada umumnya sama dengan layer bawah, perbedaanya hanya pada penyusunan lapis pembesian. Penyusunan lapis pembesian pada layer atas berkebalikan dengan layer bawah.

Gambar 4.42. Pembesian Layer atas

   d.  Pembesian Overstek kolom bawah dan Core wall

Pembesian Overstek tulangan kolom bawah dan corewall dikerjakan dengan mutu besi U ( fy = 5000kg / cm² ). Sebelum dilakukan pembesian, makan perlu diberi marking agar tidak terjadi kesalahan letak pemasangan, surveor akan mencari as tiap kolom dengan nalat theodolith dengan mengacu pada Bench Mark (BM) yangtelah ditentukan. Tinggi penulangan stek kolom adalah 48,5 m dan tinggi penulangan stek carewall 4,5 m, semuanya itu diukur dari TOC mat foundation.

Yang sangat perlu diperlihatkan dalam pelaksanaan pembesian dilapangan adalah

  • Posisi pembesian yang seharusnya dikerjakan
  • Jumlah Besi
  •  Tipe Besi

Hal tersebut untuk menghindari adanya kesalahan pemasangan yang berakibat pembongkaran ulang sehingga dapat mengganggu schedule kerja.

Gambar 4.43. Pembesian didaerah corewall

   7.  Separing ME

Sparing ME merupakan pemasangan pipa / plumbing yang dilakukan oleh pihak ME yang berfungsi untuk saluran air. Pemasangan sparing ME pada area mat foundation menggunakan CIP dia 2”, 3”, 4” berjarak (50-70) cm di bawah TOC mat foundation. Pada pekerjaan sparing ME sangat diwajibkan teliti dan tepat karena apabila ada kesalahan setelah pengecoran selesai maka akan sangat sukar untuk membongkar ulang karena adanya pembesian Mat Foudation.

Gambar 4.44.  Pemasangan Pipa

   8.  Pemasangan ThermoCouple

Monitoring temperature beton dalam pengecoran mat foundation adalah sesuatu hal yang sangat penting. Terjadinya perbedaan temperature yang sangat besar akan menimbulkan efek keretakan pada beton yang akan berakibat fatal. Alat yang dipakai untuk memonitor perbedaan temperature tersebut adalah Thermocouple. Thermocouple dipakai selain untuk memonitor suhu/perbedaan temperature pada tiap bagian, juga digunakan untuk mengukur perbedaan suhu maximum yang terjadi setelah pengecoran selesai, thermocouple menggunakan 3 layer dan 4 titik, sehingga jumlah thermocouple 12 buah. Pengukuran thermocouple dilakukan tiap dua jam untuk 24 jam pertama, dan setiap 3 jam untuk 24 jam berikutnya.

Gambar 445.  Thermocouple

 

9.  Pemasangan Kawat Loket / Penahan Longsoran Beton

Berdasarkan pembagian area pengecoran dan setting time beton maka pengecoran mat foundation dibagi dalam beberapa zone, setiap pembagian zone dipasang kawat loket/mesh (20 x 20) mm yang berfungsi untuk menahan supaya beton tidak longsor, diamana longsoran beton tersebut dapat mengakibatkan Could joint pada daerah beton tertentu saat pengecoran dengan valume besar secara terus menerus.

Dengan adanya jumlah beton dengan skala besar maka diperlukan adanya perkuatan pada kaat loket. Untuk perkuatan horizontal menggunakan besi D13, sedangkan untuk perkuatan vertikal menggunakan besi D-22.

Gambar 4.46.  Pemasangan loket kawat

   10.  Inspeksi Dan Survey

Dialakukan setelah pengecoran dimulai yang bertujuan mengetahui apakah pembesian yang terpasang sesuai dengan gambar kerja, kegiatan ini akan dilakukan oleh pihak pelaksana dengan pihak manajemen kontruksi. Daftar pembesian / checklist akan dibawa saat inspeksi dilakukan dilapangan, check list untuk pembesian meliputi :

  1. Shop drawing sudah di approval
  2. Diameter, jenis jumlah dan jarak besi sesuia shop drawing
  3. Overlaping sambungan sesuai dengan gambar
  4. Beton decking terpasang dengan jumlah dan diameter yang telah ditentukan ( 4 Buah / m²)
  5. Kaki ayam terpasang,diameter besi dan jarak sesuai dengan persyaratan
  6. Ikatan besi ( ikatan silang ) dengan bendrat cukup kuat ( tidak bergetar saat diketok )
  7. Besi bersih dari karat, oli, beton kering dan tanah
  8. Jarak bersiih pembesian minimal 45 mm
  9. Bending / bengkok besi sudah sesuai persyaratan yaitu 5D
  10. Elavasi tulangan / pembesisan sudah benar dan kuat

Ispeksi merupakan hal yang sangat penting, diharapkan ketika pengecoran telah selesai dilakukan tidak akan ada masalah untuk pekerjaan berikutnya dan juga menghindari adanya kecurangan yang dilakukan oleh pihak kontraktor.

Gambar 4.47.  Inspeksi dan survai

   11.  Pemasangan Stop Cor

Dilakukan pada proses pengecoran dimulai, terdiridari plywood 18 kayu 50/70 dan list kayu 40 x 40 sebagai tempat waterstop. Berfungsi agar tidak ada kebocoran antara pertemuan beton lama dan beton baru bertemu.

Gambar 4.48.  Waterstop

   12.  Pemasangan Tenda

Pada saat pengecoran diperlukan adanya ansipasi oeh pihak pelaksana apabila terjadi hujan yang dapat mengganggu pengecoran dan dapat merusak mutu beton, maka pemasangan tenda sebagai alternatif tindakan yang dilakukan dan berfungsi juga menghindar panas sinar matahari secara langsung. Untuk rangka tenda sebagai alternative tindakan yang dilakukan dan berfungsi juga menghindari panas sinar matahari secara langsung. Untuk rangka tenda menggunakan pipa besi ф1 – 1,5. Pipa rangka dimasukan pada tulangan besi yang telah dilas pada kaki ayam. Untuk ketinggian terpal pada tepi tenda diberi perkuatan berupa ikatan dirangka atas tenda kepasak.

Gambar 4.49. Detail Tenda

(a)

(b)

                          Gambar 4.50. (a) Rangka tenda

                (b) Tenda di beri terpal

   13.  Pekerjaan Waterproofing

Beberapa jam sebelum dilakukan pengecoran, dinding bekisting dan lantai kerja dari mat foundation dilapisi dengan waterproofing. Untuk lantai dengan cara kristalisasi atau ditabur, sedangkan untuk dinding dengan cara disemprot. Fungsi dari pelaksanaan waterproofing ini adalah agar membuat bikisting menjadi kedap air sehingga air dari dalam tidak merembes keluar dan begitu juga sebaliknya, air dari luar tidak bisa masuk kedalam

Pada pelaksanaannya untuk penyemprotan waterproofing dinding bekisting menggunakan dua aplikasi. Pada aplikasi pertama dilakukan penaburan Formdexplus 1,5 kg/m2, pelaksanaan 15 menit sebelum cor. Sedangkan pada aplikasi kedua dilakukan penyemprotan dilakukan penyemprotan pada dinding bekisting dalam, aplikasi ini terdiri dari lapisan dari dua lapisan yaitu lapisan pertama dengan komposisi 0,5 kg / m, dan lapisan kedua 1 kg / m. aplikasi kedua dilaksanakan 3 jam sebelum cor.


(a)

(b)

Gambar 4.51.  (a). Bahan waterproofing (Formdexplus)

             (b). Penyemprotan Waterproofing

 

   14.  Pengecoran

Pengecoran mat foundation memerlukan jumlah volume beton yang tidak sedikit dan tentu juga memerlukan biaya yang sangat besar , sehingga sangat penting untuk persiapan antara lain :

  1. Persiapan Insfrastruktur Proyek

1)      Jalan Akses Truk Mixer

Gambar 4.52.  Jalan Akses truk Mixer

2)      Lahan parker dan maneuver truk

Gambar 4.53. Lahan parkir dan manuever Truk

3)      Area Cuci truk Mixer ( Washing Bay )

 

Gambar 4.54. Washing Bay

4)      Instalasi Listrik ( adanya genset 150 KVA sebagai backup jika listrik PLN padam )

5)      Sistem Drainase ( Pembuangan air hujan yang jatuh dari terpal akan dibuat saluran sementara

6)      Concrete Pump ( diperlukan cadangan Concrete Pump apabila adanya masalah pada saat pelaksanaan Cor )

Gambar 4.55. Concrete Pump

 

  1. Persiapan Laboraturium

1)      Persiapan di site ( gerobak, kerucut Abrams, Rojokan, palu, senter, alat Bantu komunikasi, meteran )

2)      Persiapan personel menggunakan shif ( kepala plan, Supervisor produksi, staff, teknisi, dll )

Gambar 4.56. Perlengkapan pengujian

  1. Water Supply

Digunakan untuk kebutuhan cuci mixer, washing box dan lain – lain.

  1. Kesipan Peralatan

1)             1. Concrete Pump          : 4 on site + 1 stand by

2)             2. Vibrator                     : 4 on site + 1 stand by

3)             3. Compressor                : 2 Buah

4)             4. Pompa engine            : 2 Buah

5)             5. Pompa DAB 1”         : 1 Buah

6)             6. Silinder                      : 115 Buah

7)             7. Troli                           : 3 Buah

8)             8. Termometer                : 2 Buah ( 1 cadangan )

9)             9. Kerucut Abrams        : 2 set

  1. Kesiapan Material

1)      Beton fc’ 27,5 Mpa, fa 23 % pakai es = 216 m³

2)      Besi beton 281 ton

3)      Plastik sheet 1200 m²

4)      Styrofoam 1200 m²

5)      Kawat loket 390 m²

Pengecoran Mat Foundation pada proyek The Pakubuwono View ini mempunyai persyaratan beton sebagi berikut :

1)      Tes Slump 14 ± 2 cm

2)      Suhu beton 30 ºC

3)      Perjalanan Truck Mixer dari Batching Plant ke site proyek ≤ 2,5 jam

Gambar 4.57. Jalur Sirkulasi Truk Mixer dan Penempatan CP

Gambar diatas merupakan sirkulasi keluar masuk truk mixer (TM) dan penempatan concrete pump,TM yang masuk ke lokasi pengecoran akan dicek waktu kedatangannya, suhu beton, dan nilainya slumnya. Bila waktu kedatangnya, suhu , dan tes slump tidak memenuhi syarat maka TM tersebut akan segera dipulangkan atau di reject. Pada TM yang memenuhi syarat akan langsung menuju concrete pump untuk loading. Bila saat waktu antrian terlalu lama maka akan diadakan tes slump lagi jika saat pengetesan gagal maka akan direject dari pihak pelaksana.

Area pengecoran pada mat foundation dibagi menjadi 7 zona yang mana setiap zona dibatasi oleh kawat loket. Pada saat pengecoran berlangsung digunakan alat Vibrator untuk membantu beton agar agregat kasar dan halus dapat menyatu, selain itu juga mengalirkan beton.

  1. 15.              Finishing Trowel

Pekerjaan ini dilakukan pada saat beton mendekati setting. Finish trowel ini dilakukan dengan tujuan untuk memperhalus permukaan lantai beton yang telah diberi floor hardener. Pelaksanaan floor hardener sendiri dilakukan setelah 30 menit / beton setting, dan dilaksanakan dengan system tabor. Komposisi yang digunakan 5 kg / m² dengan dua kali tabur dan dikontrol elevasinya sesuai shop drawing. Proses penaburan dilakukan setelah relag selesai.

 

Gambar 4.58. Finishing Trowel

  1. 16.              Pemasangan Steryfoam

Setelah permukaan lantai mat foundation sudah mulai mengeras, maka perlu dilakukan curing. Proses curing ini dilakukan dengan cara pemasangan steryfoam pada permukaan beton agar perubahan suhunya tetap terjaga. Pemasangan steryfoam ini bertujuan menghindari adanya retak thermal pada permukaan beton akibat perubahan yang dihasilkan oleh suhu dalam beton dengan suhu luar. Dalam hal ini steryfoam berfungsi sebagai filter antara suhu udara luar dengan suhu dalam beton.

Gambar. 4.59. Pemasangan Stryfoam


F.         Work Breakdown Structure ( WBS )

Pelaksanaan Pekerjaan Gedung Tinggi

REDESAIN BALOK GIRDER PADA BENTANG TENGAH FLYOVER BALARAJA DENGAN MENGGUNAKAN PCI GIRDER


Setelah cukup lama menukangi Tugas Akhirku… Akhirnya pada 20 Oktober 2011 aku sah lulus ujian sarjana, dan dikukuhkan menjadi Sarjana Teknik.. Terimakasih kepada Tuhan Yesus Kristus atas Kasih Karunianya aku mampu menyelesaikan Tugas Akhir ini tepat pada waktunya. Persembahan kecil ini aku berikan kepada Kedua orangtuaku dan kedua adikku.. Walau tak sebanding dengan dukungan materil dan moral yang telah mereka berikan. Terimakasih aku ucapkan juga kepada semua teman-teman yang telah membantu selesainya Tugas Akhir ini, yang tak dapat aku sebutkan namanya satu per satu… Special thanks for : @anisamarpaung (Anisa Gomgom Aprilia Marpaung)yang telah memberikan dukungan termanisnya.. Kiranya Tuhan Yesus yang membalas kebaikanmu..

Abstrak

Kemampuan dan kehandalan sebuah jembatan sangat dipengaruhi oleh jenis dan kekuatan balok girder. Pada bentang tengah Flyover Balaraja digunakan girder baja, dimana materialmya didatangkan dari Jepang dan dipabrikasi di Indonesia, yang menelan transport cost yang cukup besar. Perencanaan PCI Girder akan mengacu kepada Perencanaan Struktur Beton untuk Jembatan (SNI T-12 2004) , Pembebanan untuk Jembatan (SNI T-02 2005), Bridge Management System (BMS), dan ACI, perhitungan kehilangan prategang dengan menggunakan metode TY. Lin . Kabel prestress pada desain PCI Girder digunakan 4 tendon yang masing-masing terdiri atas 19 kawat jenis uncoated 7 wire super strands ASTM A-416 grade 270. Perhitungan kehilangan prategang dengan menggunakan rumus TY. Lin Hasil perhitungan didapatkan bahwa pada bentang tengah Fly Over Balaraja dapat Gaya prategang awal 10896,366 kN, mengalami kehilangan prategang sebesar 28 % sehingga tersisa tegangan efektif 7868,462 kN. Digunakan tegangan efektif 70% gaya prategang awal, sebesar 7627,46 kN. Pada keadaan transfer, balok mengalami lendutan sebesar 0,0547349 ke arah atas, setelah loss of prestress sebesar 0,0385201 m ke arah atas. Setelah menjadi komposit dengan pelat, balok akan mengalami lendutan terbesar akibat kombinasi 4 sebesar – 0,048583146 m. Digunakan tulangan longitudinal pada bagian atas 12 D 12, pada bagian badan 10 D 12, dan bagian bawah 14 D 12. Tulangan geser yang digunakan D 13 dengan variasi jarak di daerah tumpuan sampai tengah bentang : 100 mm, 150 mm, 250 mm, dan 300 mm. Kata kunci : Beton prategang, PCI Girder, TY.LIN 2000 Download Tugas Akhirku:

Download Tugas Akhirku http://www.scribd.com/doc/70970085/Tugas-Akhir-Teknik-Sipil-FT-UNTIRTA-by-BENZ-NAINGGOLAN


Gaya-Gaya Dalam

A. Pendahuluan

Gaya Dalam adalah gaya yang menahan gaya rambat pada konstruksi untuk mencapai keseimbangan. Misal suatu balok dijepit diujung atasnya dan dibebani oleh gaya P (gambar. 1) searah sumbu balok, maka balok tersebut dipastikan timbul gaya dalam. Gaya dalam yang mengimbangi gaya aksi (beban) bekerja sepanjang sumbu batang, sama besar, dan berlawanan arah dengan gaya aksi. Gaya dalam tersebut dinamakan gaya normal, dan dinyatakan sebagai NX bila gaya normal terletak di titik berjarak X dari B.

Gambar 1. Gaya Normal bekerja sepanjang sumbu batang

Bila terdapat beban dengan arah tegak lurus terhadap sumbu batang (gb. 2), maka akan timbul gaya (P`) dan momen (M`) pada jarak X dari titik B.

Gambar 2. Gaya Lintang dan Momen Lentur pada jarak X dari B.

Gaya dalam yang menahan aksi P` dan momen M` adalah LX dan MX. Gaya dalam yang tegak lurus terhadap sumbu batang dinamakan Gaya Lintang/Geser (Shear Force) diberi notasi LX dan momen yang mendukung lentur dinamakan Momen Lentur/Lengkung (Bending Moment) bernotasi MX.

A.1. Perjanjian Tanda Gaya Dalam.

Gaya normal diberi tanda positif (+) apabila gaya cenderung menimbulkan sifat tarik pada batang dan negatif (-) bila gaya cenderung menimbulkan sifat tekan (gb. 3.a.). Gaya lintang disebut positif apabila gaya cenderung menimbulkan patah dan searah jarum jam, dan negatif bila sebaliknya.

 

Gambar 3. Perjanjian tanda gaya-gaya dalam

Momen lentur diberi tanda positif apabila gaya menyebabkan sumbu batang cekung ke atas, dan bila cekung ke bawah diberi tanda negatif.

B. Perhitungan Gaya Dalam.

B.1. Gaya Dalam pada Kantilever

B.1.1. Gaya Dalam pada Kantilever dengan Beban Terpusat

Misal sebuah kantilever mendapat beban P1 = 10 ton dengan tg q = 4/3 pada titik A, dan P2 = 12 ton pada titik C, seperti gambar 4. Tentukan besarnya gaya normal, gaya lintang dan momen lentur dititik I dan II.

Langkah 1.

Mencari keseimbangan gaya luar. P1 diuraikan menjadi X1 = P cos q = 10 x 3/5 = 6 ton dan Y1 = P sin q = 10 x 4/5 = 8 ton, sehingga didapat reaksi

HB = 6 ton (¬), VB = 20 ton (­), dan MB = 96 Tm.

 

Gambar 4. Kantilever dengan beban miring P1 dan P2

Langkah 2.

Mencari keseimbangan gaya dalam. Kita lihat pada titik I, dengan menganggap A-I sebagai freebody yang seimbang, maka akan tampak gaya-gaya dalam yang harus mengimbangi gaya luar (lihat gambar 5).

 

Gambar 5. Keseimbangan gaya dalam pada batang A-I

Dengan persamaan statik tertentu dapat dihitung:

S H = 0 ® – 6 + NI = 0 ® NI = 6 Ton

S V = 0 ® – 8 + LI = 0 ® LI = 8 Ton

S MI = 0 ® – 8 . 1 + MI = 0 ® MI = 8 Tm

Mengingat tanda gaya dalam sesuai perjanjian maka hasil hitungan perlu dicermati: NI­ = - 6 Ton, LI = - 8 Ton, dan MI = - 8 Tm

Begitu juga dengan titik II, dimana A-II dianggap freebody, maka akan tampak gaya-gaya dalam yang mengimbangi gaya luar (lihat gambar 6).

Dengan persamaan statik tertentu dapat dihitung:

S H = 0 ® 6 + NII = 0 ® NII = – 6 Ton

S V = 0 ® – 8 – 12 – LII = 0 ® LII = – 20 Ton

S MI = 0 ® – 8 . 4 – 12 . 2 – MII = 0 ® MII = – 56 Tm

 

Gambar 6. Keseimbangan gaya dalam pada batang A-II

X

Nx

Lx

Mx

0

- 6 T

- 8 T

0

1

- 6 T

- 8 T

- 8 Tm

2

- 6 T

- 8 T

- 16 Tm

2

 

B.1.2. Gaya Dalam pada Kantilever dengan Beban Terbagi Merata

Bila beban merupakan terbagi rata, perlu diperhatikan bahwa gaya lintang dan momen lentur pada batang akan tergantung dari jarak beban terhadap titik tumpuan.

 

Gambar 7. Kantilever dengan beban terbagi merata

Gaya luar dari batang pada gambar 7 diperoleh: HB = 0, VB = q . 4 = 10 . 4 = 40 Ton, dan MB = (q . 4) (2 + 2) = (10 . 4) 4 = 160 Tm. Bila terdapat elemen kecil beban q . dx pada jarak x dari A, maka pada titik C akan mendapat reaksi gaya lintang dL = q . dx dan momen lentur dM = (q . dx) . x (gambar. 3.8). Dengan memperhatikan hal tersebut dapat disimpulkan sbb:

dan

 

Gambar 8. Keseimbangan gaya dalam pada titik C

-          Nilai L tergantung jarak dari A ke C, misal pada jarak 1 m, maka nilai L = -10 T, sedang jarak 2 m ® L = -20 T dan pada jarak 4 m ® LC = -40 T, sehingga nilai gaya lintang L semakin jauh jarak dari A semakin besar nilai (negatif) L, namun perlu diingat nilai VB = nilai LC, sehingga gaya dalam pada batang CB sebesar LC.

-          Untuk nilai M, jarak selain mempengaruhi besar beban (q.x) juga mempengaruhi letak resultan beban (½ x), sehingga misal pada jarak 1 m, maka M = -5 Tm, pada jarak 4 m ® MC = -80 Tm. Nilai MC tidak sama dengan nilai MB, berarti pada CB akan mendapat momen lentur yang berbeda. Untuk batang CB, M = (q . AC) (½ AC + x) dimana x adalah jarak titik pada batang CB, sehingga diperoleh M = (-10 . 4) (2 + x) = -80 – 40.x. misal pada jarak 1 m, maka M = – 80 – 40 = -120 Tm, dan pada jarak 2 m, maka MB = – 80 – 80 = -160 Tm.

 

B.1.3. Gaya Dalam pada Kantilever dengan Beban Momen

Bila beban merupakan momen, seperti gambar 9 dibawah ini:

 

Gambar 9. Kantilever dengan beban momen

Maka gaya dalam yang ada hanya momen lentur bernilai negatif (batang cekung ke bawah).

B.2. Gaya Dalam pada Balok Sederhana

B.2.1. Gaya Dalam pada Balok Sederhana dengan Beban Terpusat

Pada suatu konstruksi balok sederhana seperti gambar dibawah ini:

Gambar 10. Konstruksi balok sederhana

Dari keseimbangan gaya luar didapat VA = (4/10) x 2 = 0,8 T, dan VB = (6/10) x 2 = 1,2 T. Gaya dalam akan ditinjau pada titik P berada, serta AP dan PB dianggap sebagai freebody (lihat gambar 11).

Keseimbangan gaya dalam, (ditinjau dari A ke B):

Untuk 0 £ x £ 6, MX = VA . x = 0.8 . x, dan LA = VA

Untuk 6 £ x £ 10, MX = VB . (10 – x) = 1,2 . (10 – x) dan LB = – VB

Sehingga didapat LA = 0,8 T dan LB = -1,2 T dan pada titik P gaya lintang yang terjadi adalah (LA + L) = (0,8 – 1,2) = -0,4 T.

 

Gambar 11. Gaya dalam pada titik pembebanan

Untuk momen lentur didapat: pada jarak 0 (titik A) M0 = 0, jarak 6, M6 = 0,8 x 6 = 4,8 Tm, atau M6 = 1,2 (10 – 6) = 1,2 (4) = 4,8 Tm, dan pada jarak 10, M10 = 1,2 (10 – 10) = 0

B.2.2. Gaya Dalam pada Balok Sederhana dengan Beban Terbagi Merata

Bila beban pada balok sederhana berupa beban terbagi merata yang berada ditengah-tengah konstruksi (gambar 12), maka perlu membagi balok tersebut menjadi 3 bagian, untuk ditinjau gaya-gaya dalamnya.

Gambar 12. Balok sederhana dengan beban terbagi merata

Dari keseimbangan gaya luar diperoleh:

S MB = 0 ® VA . 10 – (q . 4) . (2 + 3) = 0, ® VA = ((2 . 4) . 5)/10 = 4 T

S MA = 0 ® (q . 4) . (2 + 3) – VB . 10 = 0, ® VB = ((2 . 4) . 5)/10 = 4 T

Keseimbangan gaya dalam (ditinjau dari titik A) lihat gambar 13:

Untuk 0 £ x £ 3, MX = VA . x dan LX = VA ® LA = VA = LC

M0 = 0, M3 = 4 . 3 = 12 Tm dan L0 = 4 T dan L3 = 4 T

Gambar 13. Gaya-gaya dalam yang terjadi pada balok

Untuk 3 £ x £ 7, MX = VA . x – (q . (x – 3)) . ½ (x – 3) dan LX = VA – q (x – 3)

M3 = 4 . 3 – 0 = 12 Tm, M5 = 4 . 5 – (2. 2) . ½ (2) = 16 Tm, dan M7 = 4.7 – (2 . 4) . ½ (4) = 12 Tm, dan L3 = 4 – 0 = 4 T, L5 = 4 – 2(2) = 0, L7 = 4 – 2(4) = – 4 T.

Untuk 7 £ x £ 10, MX = -VB . (x – 10) dan LX = – VB ® LB = – VB = LD

M7 = – 4 (7 – 10) = 12 Tm, M10 = – 4 (0) = 0, dan L7 = – 4 T dan L10 = – 4 T.

Jadi pada titik berjarak 5 m dari A (= ½ L), gaya lintang = 0 dan momen lentur menjadi maksimum.

Yang perlu diperhatikan adalah persamaan diatas, dimana terdapat persamaan garis linier (gaya lintang) dan persamaan garis eksponensial (parabola) (momen).

B.2.3. Gaya Dalam pada Balok Sederhana dengan Beban Momen

Balok sederhana dengan beban momen seperti gambar 14.

Gambar 14. Balok  dengan beban momen

Dari keseimbangan luar didapat VA = – M/L = M/L (¯) = 1 T, VB = M/L = 1 T

Keseimbangan dalam:

0 £ x £ 6, MX = VA . x dan LX = VA

M0 = 0, M6 = -1 . 6 = – 6 Tm, dan L0 = -1 T, L6 = -1 T

6 £ x £ 10, MX = VB . (10 – x) dan LX = – VB

M6 = 1 (10 – 6) = 4 Tm, M10 = 1 (0) = 0, dan L6 = – 1 T, L10 = – 1 T

B.2.4. Gaya Dalam pada Balok Sederhana Berpinggul dengan Beban Terpusat

Balok sederhana berpinggul dengan beban terpusat P, seperti gambar 15.

Gambar 15. Balok pinggul dengan beban terpusat

Keseimbangan luar:

VA = – (2/10) . P = – 0,8 T dan VB = ((10 + 2)/10) . P = 4,8 T

Keseimbangan dalam:

0 £ x £ 10, MX = VA . x dan LX = VA

M0 = – 0,8 . 0 = 0, M10 = – 0,8 . 10 = – 8 Tm, dan L0 = – 0,8 T, L10 = – 0,8 T

10 £ x £ 12, MX = P . (x – 12) dan LX = P

M10­ = 4 (10 – 12) = – 8 Tm, M12 = 0, dan L10 = 4 T, L12 = 4 T

B.2.5. Gaya Dalam pada Balok Sederhana Berpinggul dengan Beban Terbagi Merata

Gambar 16 memperlihatkan balok pinggul dengan beban terbagi merata

Keseimbangan luar:

dan

Gambar 3.16. Balok berpinggul dengan beban terbagi merata

Keseimbangan dalam:

0 £ x £ 6, MX = VA . x dan LX = VA

M0 = 1,2 . 0 = 0, M6 = 1,2 . 6 = 7,2 Tm dan L0 = 1,2 T, L6 = 1,2 T

6 £ x £ 10, MX = VA . x – (q/2)(x – 6)2 dan LX = VA – q (x – 6)

M6 = 1,2 . 6 – (2/2) (6 – 6)2 = 7,2 Tm, M8 = 1,2 . 8 – (2/2) (8 – 6)2 = 5,6 Tm,

M10 = 1,2 . 10 – (2/2) (10 – 6)2 = – 4 Tm, dan L6 = 1,2 – 2 (6 – 6) = 1,2 T, L7 = 1,2 – 2 (7 – 6) = – 0,8 T, L10 = 1,2 – 2 (10 – 6) = – 6,8 T

10 £ x £ 12, MX =  – (q/2)(12 – x)2 dan LX = q/2 . (12 – x)

M10 = – (2/2) (12 – 10)2 = – 4 Tm, M12 = – (2/2) (12 – 12)2 = 0, dan L10 = (2/2) . (12 – 10) = 2 T, L12 = (2/2) (12 – 12) = 0

B.2.6. Gaya Dalam pada Balok Sederhana Berpinggul dengan Beban Momen

Bila beban berupa momen pada balok berpinggul (gambar 17)

 

Gambar 17. Balok berpinggul dengan beban momen

Keseimbangan luar:

VA = – M/L = – 24/10 = – 2,4 T, dan VB = M/L = 24/10 = 2,4 T

Keseimbangan dalam:

0 £ x £ 10, MX = VA . x dan LX = VA

M0 = 2,4 . 0 = 0, M10 = 2,4 . 10 = 24 Tm, dan L0 = L6 = 2,4 T

10 £ x £ 12, MX =  – M dan LX = 0

M10 = – 24 Tm = M12 dan L10 = L12 = 0

Metode Pelaksanaan Flyover Balaraja


   








1.             Pekerjaan Persiapan

Pekerjaan ini meliputi persiapan lokasi proyek serta penyediaan sarana dan prasarana, pembersihan lokasi proyek, dan persiapan-persiapan sebelum melaksanakan pekerjaan lebih lanjut. Tujuan pekerjaan persiapan ini adalah mengatur peralatan, bangunan pembantu, dan fasilitas lainnya sedemikian rupa sehingga pelaksanaan pekerjaan dapat berjalan dengan efesien, lancar, aman dan sesuai rencana kerja yang disusun. Sedangkan untuk jalan kerja, karena lokasi proyek yang berada di tengah kota, dan di sepanjang jalan maka tidak dibutuhkan lagi jalan kerja.

Gambar 4.30 Breakdown Pekerjaan Persiapan

Beberapa hal pokok yang harus dilaksanakan dalam masa persiapan tahap satu ini adalah sebagai berikut:

  • Menentukan lokasi – lokasi kantor / direction kit, stockyard, dll sehingga dapat terorganisir dengan baik.
  • Meninjau ulang lokasi proyek agar kemungkinan–kemungkinan terjadinya kesalahan dalam perencanaan tahap pekerjaan dapat di hindarkan.
  • Menentukan alat angkut yang akan di pakai, baik untuk proses pengangkutan maupun untuk proses pengupasan lahan, dan pengurugan lahan.
  • Penyediaan alat – alat kerja yang akan dibutuhkan sesuai dengan kondisi / medan kerja, sehingga pekerjaan dapat dilaksanakan dengan efisien serta ekonomis.

 

a.             Penyediaan sarana dan prasarana

Pekerjaan ini meliputi :

1)      Penyediaan Air bersih dan daya listrik untuk bekerja.

2)      Air yang digunakan harus bersih, bebas dari bau, Lumpur, minyak, dan bahan kimia lainnya yang merusak. Penyediaan air harus sesuai dengan persetujuan Direksi / Perencana.

3)      Penyediaan rambu-rambu keselamatan, maupun tanda peringatan lainya.

4)      Kontraktor wajib membuat saluran sementara yang berfungsi sebagai pembuangan air yang ada sesuai dengan petunjuk/persetujuan Direksi.

 

b.             Stockyard

Stockyard telebih dahulu disiapkan sebelum pelaksanaan proyek dimulai. Stockyard ini digunakan untuk menyimpan material, memarkir kendaraan proyek, melakukan pabrikasi tulangan maupun bekisting. Lokasi stockyard harus mudah dijangkau dari lokasi proyek, dan harus pula cukup luas untuk dapat melakukan semua aktivitas tersebut di atas.

Stockyard pada proyek North Java Corridor Flyover Paket I Balaraja ini ditempatkan tidak jauh dari lokasi pekerjaan, dan di stockyard pula sekaligus ditempatkan mess pekerja, laboratorium, pabrikasi tulangan maupun pabrikasi bekisting. Stockyard ini pun dilengkapi dengan wc untuk pekerja, dan sebuah musholah.

Gambar 4.31 Situasi di dalam Stockyard, dan Sedang Dilakukan Pabrikasi Tulangan Pondasi

 

2.             Pekerjaan Pendahuluan

Pekerjaan pendahuluan meliputi pengukuran, land clearing, penggalian, pengurugan, pemadatan tanah. Berikut uraian pekerjaan pendahuluan yang kami amati di lapangan.

a.             Pengukuran dan Pematokan

1)      Kegiatan ini meliputi pekerjaan pengukuran untuk pemasangan patok-patok sehingga membentuk garis–garis yang sesuai dengan gambar dan harus memperoleh persetujuan tim pengawas sebelum memulai pekerjaan. Penentuan patok-patok di lapangan berdasarkan gambar rencana disebut setting out.

2)      Kontraktor bertanggung jawab atas kesempurnaan dan kebenaran pengukuran, kebenaran posisi level dan garis untuk keseluruhan pekerjaan.

3)      Tim pengawas akan memberikan titik acuan sebagai dasar pengukuran titik koordinat, batas–batas pekerjaan dan acuan untuk ketinggian. Seluruh titik ukur sehubungan dengan pekerjaan ini di dasarkan pada ukuran setempat, yaitu titik–titik ukur yang ada di lapangan proyek seperti yang direncanakan dalam gambar–gambar dan disetujui oleh team pengawas.

 

Gambar 4.32 Pekerjaan Setting Out

4)      Atas tanggungan sendiri kontraktor harus mengadakan survei dan pengukuran tambahan  yang diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan.

5)      Setiap tanda yang di buat oleh tim pengawas ataupun oleh kontraktor harus di jaga baik–baik, bila terganggu atau rusak harus diperbaiki oleh kontraktor atas tanggungan sendiri.

b.             Land Clearing (Pembersihan dan Kupasan)

Pekerjaan pada royek ini hampir tidak ada pekerjaan land clearing, karena area kerja sudah cukup bersih, hanya saja pada bagian pekerjaan widening / pelebaran jalan, existing butuh untuk dibongkar.

 

Gambar 4.33 Pembersihan dan Kupasan Existing

1)      Semua tanaman, semak-semak dan pohon-pohon di bersihkan sampai ke akar-akarnya.

2)      Pada daerah rawa-rawa atau sawah-sawah basah, lumpur harus digali dan diangkut keluar lokasi sampai didapat tanah yang baik sesuai petunjuk tim pengawas.

3)      Lapisan kupasan yang perlu dibersihkan dan dikupas setebal 50 cm.

4)      Bekas- bekas hasil kupasan, rumput, tanaman, semak-semak, pohon-pohon, lumpur, dibuang dan diangkut ke luar area proyek.

5)      Cara penimbuanan material bekas kupasan harus rapi dan sesuai dengan persetujuan tim pengawas.

Pekerjaan ini mencakup penggalian, penimbunan dan pemadatan atau pembuangan material sisa atau pembuatan stok tanah dari badan jalan sesuai dengan spesifikasi dan memenuhi garis, kelandaian dan penampang melintang yang ditujukan dalam gambar atau ditentukan oleh tim pengawas.

3.             Pekerjaan Pembesian Pondasi dan Kolom

Tualnagn untuk pondasi dan kolom terleboh dahulu dilakukan di stockyard, sebelum pekerjaan pengeboran`pondasi dimulai.. Sehingga ketika pengeboran selesai, tulangan hanya tinggal ditempatkan / erection pada galian pondasi, dengan kata lain, pekerjaan pembesian untuk pondasi dan kolom dikerjakan overlapping dari pengeboran pondasi. Hal ini membuat pekerjaan lebih efisien. Hanya saja akan dibutuhkan perlakuan khusus dalam penyimpanan tulangan sebelum dipasang/ditempatkan, hal ini untuk mencegah rusaknya tulangan akibat korosi. Pekerjaan pembesian yang meliputi perhitungan diameter tulangan, jarak antar tulangan dan sebagainya harus memenuhi syarat–syarat dari pembesian sebagai berikut :

a.       Persyaratan Peraturan Beton Indonesia 1971 seperti panjang kait, panjang penyaluran, panjang stek dan jarak antar tulangan.

b.      Pengikatan tulangan harus kuat, supaya dalam pengecoran tidak mengalami pergeseran tempat. Pengikatan dilakukan dengan menggunakan  kawat baja dan las listrik.

  1. Untuk menjaga tercapainya selimut beton yang diinginkan maka pada tulangan diberi spacer di empat sisi, sepanjang tulangan, dengan jarak 2000 mm.
  2. Pengelasan harus memenuhi ketentuan perencana, yaitu harus sesuai dengan Structural Welding Code Reinforced Steel. Menggunakan electrode E90xx, dan saat pengelasan, tidak boleh merusak batang tulangan utama.
  3. Pengerjaan tulangan spiral harus diperhatikan secara seksama, sesuai dengan gambar rencana, dan disambungkan dengan erat pada tulangan utama.
  4. Pemasangan tulangan harus benar-benar sesuai dengan gambar rencana serta daftar pembesian yang dibuat oleh kepala pelaksana yang sudah disetujui oleh konsultan pengawas, kecuali ditentukan lain ataupun ada revisian desain.

Gambar 4.34 Breakdown Pekerjaan Pembesian

Pekerjaan pembesian meliputi antara lain :

a)             Membuat bestart (daftar memotong besi)

Tahap ini merencanakan daftar pemotongan besi sesuai dengan gambar rencana dan besi di lapangan.

b)            Memotong tulangan sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan

Memotong tulangan harus dilakukan dengan hati-hati dan sesuai bestart dan diupayakan supaya tidak terjadi kesalahan juga diupayakan agar sisa potongan seminim mungkin. Harga besi tulangan sangatlah mahal, dan apabila terjadi kesalahan saat pemotongan akan membuat potongan tidak dapat digunakan lagi. Sedangkan besi sisa potongan harganya jatuh di pasaran, sehingga hal ini akan membuat kerugian.

 

c)             Membentuk kait dan sengkang, dan tulangan spiral

Meliputi pembentukan kait, sengkamg, dan tulangan spiral. Pekerjaan ini membutuhkan alat pembentuk seperti bar bender, ataupun pembengkok tulangan tradisional yang dibuat sendiri. Batang-batang tulangan dipotong sesuai dengan kebutuhan, kemudian dibentuk dengan bar bender sesuai dengan bentuk di gambar.

d)            Menyusun tulangan pada tempatnya sesuai dengan gambar rencana

Setelah komponen-komponen tulangan telah dibuat, kemudian disusun sesuai dengan gambar. Terlebih dahulu tulangan-tulangan memanjang dipasangkan dengan  tulangan melingkar di kedua ujungnya, kemudian tulangan-tulangan spiral dipasangkan pada bentangan tulangan memanjang. Tulangan-tulangan spiral tersebut diletakkan sesuai gambar, perlu diperhatikan rapat – renggang tulangan spiral agar sesuai dengan gambar rencana. Selesai tulangan-tulangan ditempatkan tepat pada posisinya, sesuai dengan gambar, maka tulangan tersebut diikat dengan las.

e)             Mengikat tulangan yang berhubungan satu sama lain dengan dilas.

Pengawas terlebihn mengecek tulangan pondasi maupun kolom yang telah dirakit dan kemudian bila telah disetujui, maka kemudian tulangan tersebut dilas pada beberapa titik sehingga tidak terlepas dari posisinya.

Memulai pekerjaan pembesian, sebelumnya kepala pelaksana harus membuat daftar rencana pembesian yang mendetail berdasarkan gambar rencana konstruksi yang lengkap, seperti diameter tulangan, panjang tulangan, banyak tulangan yang dibutuhkan, panjang bengkokan, jarak antar tulangan, tempat penghentian dan penyambungan tulangan.

 

Gambar 4.35  Pekerjaan Pemasangan Spiral

Pekerjaan pemotongan dan pembengkokan tulangan dilakukan di stockyard. Pekerjaan ini memerlukan gambar konstruksi dan daftar rencana pembesian karena kebutuhan tulangan yang bervariasi.

Mempertimbangkan tingginya harga besi tulangan, maka pekerjaan pemotongan dan pembengkokan tulangan harus diusahakan se-efisien mungkin dengan mengusahakan agar sisa potongan tulangan sesedikit mungkin. Oleh karena itu pekerja dituntut mengusahakan pemanfaatan sepenuhnya dari batang besi tulangan, dan meminimalisir potongan sisa tulangan yang tidak berguna.

 

4.             Pekerjaan Drainase

Saluran draiase yang digunakan pada proyek ini adalah:

a.             Saluran dari pasangan batu

Saluran ini menggunakan pasangan batu dengan perekat berupa mortar (campuran semen, pasir dan air), dengan pentup saluran berupa pelat-pelat kecil dari beton yang dicetak ditempat.

b.             Reinforced Concrete Pipe (RCP)

Perlu diperhatikan ketelitian dan ketepatan elevasi dalam pekerjaan drainase terutama pada bagian yang menggunakan RCP. Pemasangan RCP harus tepat pada elevasi yang ditentukan pada gambar rencana, karena jika terjadi kesalahan akan membuat sistem drainase malah tidak berfungsi. Cek dan ricek keseuaian elevasi pada gambar rencana dan aktual sebelum RCP diletakkan pada lantai kerja harus terus dilakukan.

Gambar 4.36 Breakdown Pekerjaan Drainase

Pekerjaan drainase meliputi:

1)             Pekerjaan penggalian

Pekerjaan saluran drainase pada section widening, dilakukan bersamaan dengan penggalian dan kupasan eksisting untuk pekerjaan widening. Hanya saja galian untuk saluran drainase lebih dalam dibandingkan dengan galian widening. Pekerjaan penggalian dilakukan dengan alat backhoe, dimana pada pekerjaan besar, backhoe lebih efisien dibanding dengan tukang/tenaga manusia.

2)             Pemasangan / erection RCP

Pemasangan pipa saluran dibantu dengan backhoe. RCP diletakkan diatas lantai kerja, dengan diberikan beton decking sebagai alas atau spacer antara LC dan RCP. RCP diletakkan sedemikian rupa, disusun sepanjang segmen kerja yang sebelumnya telah dibuat bekisting beton bedding sepanjang peletakan RCP. Sambungan-sambungan tiap segmen kemudian direkatkan dengan adukan mortar,sehigga tidak terjadi kebocoran saat saluran RCP dioperasikan nanti. Sedangkan untuk menjaga posisi RCP pada letaknya, RCP dicor beton bedding yang merekatkan antara LC dan RCP. Tinggi beton bedding sedikit lebih tinggi dari beton decking, sehingga sebagian tubuh RCP terendam dalam coran beton bedding.

 

Gambar 4.37 Pemasangan RCP pada Saluran dengan Alat Backhoe

3)             Pekerjaan saluran pasangan batu

Secara prinsip pekerjaan ini dilakukan sama seperti halnya pengerjaan pasangan batu lainnya. Batu disusun dan direkatkan dengan mortar sedemikian rupa membentuk diding dan lantai saluran di sepanjang jalur rencana saluran. Perlu diperhatikan dalam pekerjaan ini adalah ketepatan elevasi rencana saluran, agar kemiringan saluran sesuai dengan kemiringan rencana, sehingga saluran dapat berfungsi dengan baik sebagaimana mestinya.

4)             Pekerjaan man hole

Man hole adalah lubang yang akan digunakan untuk perawatan saluran drainase saat dioperasikan. Lubang ini menjadi tempat masuknya orang yang akan melakukan pengecekan dan pembersihan saluran. Dimensi lubang ini pun tidak terlalu besar, hanya direncanakan untuk fit  terhadap tubuh orang dewasa sehingga dapat masuk ke dalam saluran. Dinding man hole dibuat dari susunan batako.

Yang perlu diperhatikan dalam pekerjaan pemasangan RCP adalah:

1)      Pemasangan pipa harus akurat menurut elevasi level, dan kesebarisan.

2)      Pastikan penyambungan pipa baik.

3)      Pengurugan kembali harus dilakukan dengan hati-hati untuk mencegah pergeseran maupun kerusakan pada pipa.

4)      Dasar parit harus cukup keras/kuat untuk menahan pipa diatasnya.

 

5.             Pekerjaan Widening / Pelebaran Jalan

Pekerjaan widening / pelebaran jalan terlebih dahulu dilakukan pada proyek ini, agar existing dapat digunakan untuk ruang kerja,sehingga tidak mengganggu lalulintas sekitar saat pekerjaan konstruksi dilaksanakan. Pekerjaan widening disini sebenarnya bukan pekerjaan jalan baru, melainkan menambah dimensi melintang dari jalan yang sudah ada.

Gambar 4.38 Breakdown Pekerjaan Widening

a.             Pengupasan tanah

Pekerjaan ini meliputi pengupasan tanah asli, maupun tanah jelek yang tidak memenuhi spesifikasi sebagai subgrade. Pengupasan dilakukan dengan backhoe, karena akan lebih efisien mengingat lapisan tanah dan existing yang dikupas cukup keras, dan volume pekerjaan yang besar.

b.             Pemadatan

Material timbunan dipadatkan hingga mencapai kepadatan kering masksimum, dan membentuk profil sesuai dengan yang diinginkan. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepadatan material timbunan adalah:

1)      Karakteristik material timbunan

2)      Kadar air material timbunan

3)      Jenis alat pemadatan yang digunakan

4)      Massa (berat) alat pemadatan yang digunakan.

5)      Ketebalan lapisan material yang dipadatkan

6)      Jumlah lintasan yang diperlukan.

c.              Lapis pondasi bawah

Fungsi dari lapis pondasi bawah adalah:

1)      Sebagai bagian dari konstruksi perkerasan untuk mendukung dan mendistribusikan beban roda.

2)      Memberi platform bagi penghamparan lapis pondasi atas.

3)      Untuk mencegah tanah dasar masuk ke dalam lapis pondasi.

d.             Lapis Pondasi Atas

Lapis pondasi atas merupakan perletakan dari lapis permukaan. Sama halnya seperti lapis pondasi bawah, lapis pondasi atas juga berfungsi untuk mendistribusikan beban lalulintas dari lapis permukaan.

e.              Lapis Permukaan

Merupakan hamparan pekrerasan dengan bahan pengikat aspal, sebagai lapisan permukaan jalan.

Fungsi lapis permukaan:

1)      Sebagai bahan perkerasan untuk menahan beban roda.

2)      Sebagai lapisan rapat air untuk melindungi badan jalan dari kerusakan akibat cuaca.

3)      Sebagai lapisan aus (Wearing Course).

Gambar 4.39 Penghamparan Material Base B dan Pemadatan dengan Roller

 

6.             Pekerjaan Sub-Structure

Pekerjaan sub-structure meliputi :

  1. a.             Pekerjaan Pondasi

Peralatan yang digunakan dalam pekerjaan pondasi ini adalah:

1)      Mesin bor berupa Boring Machine Crane Mounted.

2)      Mata bor / Drilling Tool berbagai jenis dan ukuran.

3)      Casing

4)      Tangki penampung campuran bentonite

5)      Mesin pencampur mesin bentonite.

6)      Pompa sentrifugal

7)      Selang

8)      Pipa tremie (Diameter 25 cm)

9)      Corong Cor (Diameter atas 45 cm, dan diameter bawah 25 cm)

10)  Kait tulangan

11)  Mesin las listrik

Cairan bentonite diperlukan dalam proses pengecoran untuk mencegah terjadinya keruntuhan dinding lubang galian saat dilakukan pengeboran. Keruntuhan biasanya terjadi akibat air tanah yang menekan untuk mengisi lubang galian, akhirnya mendesak tanah untuk runtuh. Apalagi pada pekerjaan galian bor yang dalam, dam muka air yang tinggi, serta jenis tanah yang berbutir / granular. Jika hal ini terjadi tentu akan tidak menguntungkan, karena mengganggu pekerjaan. Cairan bentonite yang memiliki berat jenis yang lebih besar daripada air, akan menahan air untuk tidak masuk dalam lubang galian, sehingga tanah di sekeliling lubang galian tidak akan runtuh. Cairan bentonite didapat dari campuran semen bentonite dengan air dengan ketentuan 35 kg Bentonite dicampur dengan 1000 liter air. Cairan bentonite dicampur pada alat khusus yang telah ditempatkan di lapangan milik PT. Indopora, setelah pencampuran dilakukan, cairan bentonite ditampung dalam tangki besar. Terdapat 2 buah tangki besar di lapangan untuk menampung cairan bentonite, sehingga pada waktu dibutuhkan saat pengeboran, cairan bentonite tersebut tinggal dialirkan dengan sistem gravitasi melalui pipa-pipa yang disambungkan ke tangki. Demikian pula setelah cairan bentonite selesai digunakan kembali, akan dipompa menuju tangki penampungan.

Pondasi yang digunakan pada proyek Pembangunan North Java Corridor Flyover Paket 1 Balaraja Flyover adalah pondasi tiang bor, dengan dimensi sebagai berikut:

POSITION

LEGTH (m’)

DIAMETER (mm)

A1 LEFT

12

1800

A1 CENTER

12

1800

A1 RIGHT

12

1800

P1 LEFT

18

1500

P1 RIGHT

18

1500

P2 LEFT

20

1500

P2 RIGHT

20

1500

P3

21

2500

P4

29

2500

P5

29

2500

P6 LEFT

18

1500

P6 RIGHT

28

1500

P7 LEFT

23

1500

P7 RIGHT

23

1500

P8 LEFT

20

1500

P8 RIGHT

20

1500

P9 LEFT

20

1500

P9 RIGHT

20

1500

A2 LEFT

18

1800

A2 CENTER

18

1800

A2 RIGHT

18

1800

Tabel 4.3 Data Kedalaman dan Diameter Pondasi Bored Pile

Pondasi tiang bor adalah pondasi yang dibangun dengan menggali tanah terlebih dahulu, yang berpenampang lingkaran lalu diisi dengan tulangan dan dicor dengan beton. Pondasi tiang bor diklasifikasikan sebagai pondasi dalam.

Pada proyek pembangunan North Java Corridor Flyover Paket 1 Balaraja Flyover ini, jenis pondasi tiang bor digunakan sebanyak 6 titik dengan diameter 1800 mm, 12 titik dengan diameter 1500 mm, dan 3 titik dengan diameter 2500 mm, dan dengan kedalaman 12 m s.d. 29 m. Pondasi ini menggunakan beton kelas B-2 dengan mutu K-300.

Perlu diperhatikan urutan pekerjaan tiang saat pekerjaan pengeboran. Pekerjaan tiang yang satu sengaja diloncat, tidak berurutan berdasarkan nama tiang. Hal ini dimaksudkan agar pada saat pengeboran selanjutnya tidak terjadi keruntuhan akibat gangguan tegangan tanah yang diakibatkan pengeboran sebelumnya.

Gambar 4.40 Breakdown Pekerjaan Pondasi Bored Pile

Berikut adalah langkah-langkah pelaksanaan pekerjaan pondasi di lapangan:

1)             Pekerjaan Persiapan

Pekerjaan persipan dilakukan sebelum melakukan prosedur penginstalan Bored Pile. Pekerjaan persiapan diantaranya meliputi persiapan lahan seperti pemetaan lahan dengan menggunakan alat-alat theodolit, proses ini dilakukan sebelum alat-alat berat dimasukkan ke lapangan, karena akan sulit jika melakukan pemetaan setelah alat-alat berat itu masuk ke lapangan. Pemetaan dilakukan untuk menentukan letak pemasukan alat-alat berat ke lapangan.

Guna meletakkan silo bentonite yang bobotnya sangat berat, maka dibuat landasan berupa pelat beton dengan tebal 20 cm seluas perletakan silo, apabila diperlukan, maka akan dipasang pelat-pelat baja. Tujuannya untuk menopang alat-alat berat agar tidak ambles masuk ke tanah apabila daya dukung tanah di lapangan tidak cukup baik, namum karena pada proyek ini pekerjaan pengeboran dilakukan di atas existing berupa perkerasan aspal, maka hal itu tidak diperlukan. Persiapan lahan juga terdiri dari pembersihan lahan, seperti misalnya pembersihan batu-batu besar yang ada di lapangan, penebangan pohon-pohon yang mengganggu di lapangan.

2)             Persiapan Bentonite Mix

Terlebih dahulu dipersiapkan alat-alat yang mendukung pekerjaan tersebut sebelum pekerjaan bored pile dimulai. Salah satunya adalah bentonite mixing plant. Bentonite mixing plant terdiri atas beberapa bagian, yakni:

(a)   Mixing tank

(b)   Silo

(c)    De-sanding tank

(d)   Pompa sentrifugal

(e)    Pipa baja

Seluruh alat tersebut didatangkan, kemudian dipasang dan diletakkan sesuai site plan yang telah dibuat sehingga memungkinkan berlangsungnya siklus bentonite.

Gambar 4.41 Bentonite Mixing Plant

 

Gambar 4.42 Bentonite Mixing Tank

Pekerjaan selanjutnya setelah bentonite mixing plant terpasang adalah proses pencampuran cairan bentonite. Cairan bentonite terdiri atas bubuk bentonite dan air, keduanya dicampur dalam mixing tank.

 

Gambar 4.43 Siklus Bentonite dalam Proses Bored Pile

Cairan bentonite yang telah tercampur kemudian dialirkan ke silo. Silo merupakan tangki besar tempat menyimpa bentonite sampai digunakan untuk bored pile. Bentonite kemudian dialirkan ke lubang galian selama pelaksanaan pengeboran. Cairan bentonite yang telah selesai digunakan kemudian dipompa menuju de-sanding tank, disana cairan bentonite dicek apakah masih bisa di gunakan kembali atau tidak. Bentonite yang masih memenuhi spek kemudian dipompa kembali ke dalam silo, jika tidak maka bentonite dibuang dengan mobil tangki.

Property Units

When Slurry Introduce

During Concrete in Hole

Result of the test

Test Method

Density (KN/m3)

10,10 – 10,86

10,10 – 11,79

10,8

Density Balance

Sand content (%)

max 3%

max 3%

1

Sand Cone

Viscosity (sec per quart)

28 – 45

28 – 45

32,2

Marsh Cone

pH

8 – 11

8 – 11

8

pH paper or meter

Tabel 4.4 Spek Bentonite dan Contoh Hasil Pengujian

3)             Pengeboran

Pekerjaan pengeboran dapat dilakukan setelah pekerjaan persiapan lahan selesai. Pengeboran ini bertujuan untuk melakukan pengecoran Bored Pile nantinya. Pekerjaan pengeboran ini harus diparalel dengan pekerjaan pembuatan / perakitan tulangan Bored Pile. Hal ini supaya jangan sampai tanah sudah di bor, tapi ternyata tulangannya masih belum siap. Tanah pada lubang pondasi akan rusak, jika pekerjaan tertunda terlalu lama. Hal ini disebabkan karena hujan atau getaran akibat lalu-lintas di atasnya. Kerusakan pada lubang galian akan memerlukan pekerjaan pengeboran lagi, yang memaksa kita untuk mengeluarkan biaya lagi. Hal ini sangat tidak efektif, menghabiskan waktu dan biaya oleh karena itulah diupayakan pengeboran, pemasangan tulangan, dan pengecoran dilakukan dalam interval waktu yang berdekatan (1 hari pekerjaan). Pengeboran dilaksanakan setelah rangkaian tulangan telah siap dan pihak ready mix-nya juga telah siap.

Pengeboran dilakukan dengan mesin Boring Machine Crane Mounted. Mesin ini disebut demikian, karena berupa mesin bor yang ditempelkan pada crane. Pengeboran dimulai dengan menyetel alat pada titik-titik yang telah direncanakan. Mencari titik-titik koordinat itu di lapangan dapat dilakukan dengan menggunakan alat ukur theodolit, caranya dari titik benchmark di lapangan / titik patok, yang didapat ketika melakukan survey, atau penggambaran denah lapangan, dari titik tersebut kita lakukan “tembakan” dengan jarak dan sudut yang telah dicari dalam perhitungan, sehingga didapatkan titik-titik pengeboran dilapangan.

Pengeboran di lapangan dilakukan di atas existing yang berupa perkerasan aspal, sehingga pada tahap awal digunakan mata bor (drilling tool) yang dapat memecahkan batu / tanah keras, yakni rock auger. Pengeboran dengan rock auger dilakukan sampai didapat lapisan tanah, kemudian digunakan drilling tool untuk tanah biasa, kemudian sebelum mencapai kedalaman yang diinginkan dipasang casing pada galian. Casing adalah pipa yang mempunyai ukuran diameter dalam kurang lebih sama dengan diameter lubang bor. Fungsi casing adalah untuk melindungi dinding galian dari keruntuhan saat pengeboran dilakukan. Terlebih pada dinding bagian atas galian, yang terpengaruh oleh aktivitas mesin bor (getaran yang ditimbulkannya) saat pengeboran dilakukan. Cara pemasangan casing adalah diangkat dan dimasukkan pada lubang bor, dimana memasukannya ada berbagai cara dengan di jacking atau vibration.

Cairan bentonite kemudian dialirkan ke dalam galian, setelah casing terpasang. Cairan bentonite dan casing nantinya akan berfungsi mencegah keruntuhan tanah di sekitar dinding galian saat dilaksanakan pengeboran. Pembersihan lubang kemudian dilakukan setelah pemasangan casing selesai, yakni dengan mengambil tanah dan Lumpur dari dasar lubang dan kemudian dibuang. Proses pembersihan ini menggunakan alat Cleaning Bucket. Pengeboran kemudian dilanjutkan kembali dengan drilling tool untuk tanah keras (dilengkapi keranjang) sampai kedalaman yang ditentukan. Demikian proses pengeboran dilakukan untuk setiap titik hingga mencapai tanah keras.

Pengecekan apakah kedalaman lubang bor sudah mencukupi dilkukan dengan menggunakan cara manual yaitu mengikatkan pemberat pada sebuah pita ukur dan menjatuhkanya kedalam lubang hingga terasa antukan pada pemberat tersebut. Setelah dipastikan pengeboran sudah mencapai kedalaman yang ingin dicapai, tanah hasil pengeboran perlu juga dichek dengan data hasil penyelidikan terdahulu, apakah jenis tanah adalah sama seperti yang diperkirakan dalam menentukan kedalaman tiang bor tersebut. Ini perlu karena sampel tanah sebelumnya umumnya diambil dari satu dua tempat yang dianggap mewakili. Tetapi dengan proses pengeboran ini maka secara otomatis dapat dilakukan prediksi kondisi tanah secara tepat, satu persatu pada titik yang dibor.

Tahap berikutnya setelah proses pengeboran dan pemasangan casing dilakukan adalah pemasangan tulangan. Penulangan harus disambung di lapangan, karena pondasi terlalu dalam dan panjang tulangan tidak memungkinkan dibuat tanpa sambungan . Hal ini membuat pengangkatan dilakukan dengan bertahap.

 

Gambar 4.44 Pekerjaan Pengeboran

4)             Peletakan / Erection Tulangan

Peletakan tulangan pada galian pondasi dimulai dengan pengangkutan tulangan dari pabrikasi di stockyard ke lokasi pekerjaan. Pengangkutan dilakukan dengan truck trailer.

Kedalaman pondasi yang dikerjakan di lapangan dapat mencapai 29 meter, sedangkan tulangan tidak memungkinkan untuk dibuat menerus sepanjang itu, maka dibuat sistem tulangan segmen per segmen yang dapat disambung. Hal ini mengakibatkan erection tulangan harus dilakukan bagian perbagian yang kemudian disambung dengan las di bagian atas. Sambungan harus dibuat overlap yang memenuhi syarat 40D s/d 60D. Pengangkatan tulangan degan crane dibantu dengan alat spider. Penggunaan Spider dimaksudkan agar menjaga bentuk diameter tulangan agar tidak rusak akibat gaya yang ditimbulkan ikatan seling. Berikut rincian pekerjaan erection di lapangan.

 

Gambar 4.45 Pengangkatan Tulangan dengan Crane Menggunakan Spider

 

Gambar 4.46 Pekerjaan Erection Tulangan

5)             Pengecoran Beton pada Lubang Pondasi

Proses selanjutnya setelah proses pemasangan tulangan baja adalah pengecoran beton. Pekerjaan ini merupakan bagian yang paling kritis yang menentukan berfungsi tidaknya suatu pondasi, meskipun proses pekerjaan sebelumnya sudah benar, tetapi bila pada tahapan ini gagal maka gagal pula pondasi tersebut secara keseluruhan.

Pengecoran disebut gagal jika lubang pondasi tersebut tidak terisi benar dengan beton, misalnya ada yang bercampur dengan galian tanah atau segresi dengan air, tanah longsor sehingga beton mengisi bagian yang tidak tepat.

Air tanah yang memenuhi lubang pondasi menyebabkan pengecoran memerlukan alat bantu khusus, yaitu pipa tremie. Pipa tersebut mempunyai panjang yang sama atau lebih besar dengan kedalaman lubang yang dibor.

Alat – alat yang digunakan dalam proses pengecoran pondasi:

1.      Pipa tremie

2.      Corong

3.      Penjepit pipa / tremie pipe holder

4.      Casing baja silinder

Langkah-langkah pekerjaan pengecoran:

a)             Setting Alat Pengecoran

Selesai lubang galian dibor, kemudian dilakukan persiapan alat-alat pengecoran. Pipa tremie dimasukkan perlahan ke dalam lubang galian dengan bantuan crane, segmen per segmen. Suatu segmen pipa masuk ke dalam galian, kemudian dijepit pada mulut lubang, kemudian segmen lainya diangkat dan disambungkan pada segmen yang dijepit tadi. Penjepit kemudian dilepas, setelah pipa tersambung dan dimasukkan kembali ke dalam galian. Hal yang sama dilakukan selanjutnya sampai pipa tremie masuk pada kedalaman yang diinginkan, dan pipa tremie kembali dijempi pada mulut galian agar tidak jatuh seluruhnya ke dalam galian. Selesai pipa tremi dipasang, corong untuk pengecoran pun dipasang di atas pipa tremie. Posisi pipa harus diperhatikan agar pipa tremie berada pada posisi center dari galian, hal ini agar distribusi campuran beton yang dicor dapat merata di semua bagain galian pondasi.

 

Gambar 4.47 Steel Holder

 

Gambar 4.48  Pemasangan Pipa Tremie ke dalam Galian Bor yang Siap Dicor

b)            Pengecoran

Beton untuk pondasi menggunakan ready mix yang didatangkan dari PT. Holcim batching plant balaraja. Campuran beton ini dirancang sedemikian rupa supaya walaupun kandungan air tinggi, namun tetap memiliki kekuatan yang tinggi. Nilai slump untuk beton pondasi ditentukan harus lebih dari 17 mm, hal ini membuat pekerjaan pengecoran beton menjadi lebih mudah. Tidak digunakan vibrator untuk pemadatan dalam proses pengecoran, karena beton dengan nilai slump 17 mm sangat encer sehingga proses pemadatannya tidak perlu menggunakan vibrator.

Proses kerjanya pengecoran beton pondasi adalah sebagai berikut :

Saat pipa tremie sudah berhasil dimasukkan ke lubang bor, ujung atas ditahan sedemikian sehingga posisinya terkontrol (dipegang) dan tidak jatuh, lalu corong beton dipasang dan pada kondisi pipa seperti ini maka pengecoran beton siap dilakuakan. Truk ready mix siap untuk mendekat dan menuang beton segar pada corong yang telah dipasang.

Kesulitan mulai terasa pada tahap ini, karena keahlian operator sangat menentukan keberhasilan dalam proses pengecoran dengan cara ini. Dikatakan sulit karena pipa tremie tadi perlu untuk dicabut lagi. Jadi jika beton yang dituang terlalu banyak maka untuk mencabut pipa yang tertanam menjadi lebih susah, sedangkan jika terlalu dini mencabut pipa tremie, sedangkan beton pada bagian bawah belum terkonsolidasi dengan baik, maka bisa-bisa terjadi segresi ataupun tercampur dengan tanah, padahal proses itu semua kejadiannya di bawah, di dalam lobang yang tidak terlihat sama sekali. Jadi pengalaman supervisi atau operator yang mengangkat pipa tadi memegang peran sangat penting. Jika pada tahap ini gagal, maka secara keseluruhan, pelaksanaan pondasi juga gagal.

Saat beton yang di cor sudah semakin ke atas (volumenya semakin banyak) maka pipa tremie harus mulai ditarik ke atas bagian pipa tremie yang basah dan kering (gambar kanan).

Adanya pipa tremie tersebut menyebabkan beton dapat disalurkan ke dasar lubang langsung dan tanpa mengalami pencampuran dengan cairan bentonite. Karena Berat Jenis beton lebih besar dari BJ bentonite maka beton makin lama-makin kuat untuk mendesak lumpur naik ke atas. Hal ini mengakibatkan cairan bentonite mulai terdorong ke dan mulai digantikan dengan beton segar tadi. Sementara beton terus dicor melalui pipa tremie, cairan bentonite dipompa menuju tangki penampungan.

Proses pengecoran ini memerlukan suplai beton yang menerus, jika ada keterlambatan beberapa jam dan terjadi setting maka pipa tremie-nya bisa tertanam dibawah dan tidak bisa dicabut, sedangkan jika terburu-buru mencabut maka tiang beton bisa tidak menyambung. Hal ini membuat pelaksana hrus selalu memperhatikan bagian logistik / pengadaan beton.

Pengerjaan pengecoran yang berlangsung dengan baik adalah jika beton dapat muncul dari kedalaman lobang. Pemasangan tremie mensyaratkan bahwa selama pengecoran dan penarikan maka pipa tremie tersebut harus selalu tertanam pada beton segar. Kondisi tersebut fungsinya sebagai penyumbat atau penahan agar tidak terjadi segresi atau kecampuran dengan lumpur. Proses pengecoran telah selesai sampai tahap ini. Casing kemudian dicabut kembali dari lubang bor saat beton masih segar / belum setting.

Description Content
Silica Consignment

516

DUST purchase

167

Screen 5-10

389

Split 10-20

676

Cement Type

387

Retarder P-25

852

DARACEM – 130

-

Water

172

Tabel 4.5  Mix Design Beton Kelas B-2

 

Gambar 4.49 Pekerjaan Pengecoran Pondasi

  1. b.             Pekerjaan  footing

Pekerjaan Bored Pile selesai maka dilajutkan dengan pekerjaan footing. Footing merupakan struktur yang berfungsi untuk mengikat tiang-tiang menjadi satu kesatuan, dan memindahkan beban kolom kepada tiang pondasi. Tidak semua titik pondasi pada proyek ini menggunakan footing. Sesuai dengan desainya, footing hanya terdapat pada abutmen yakni titik A1 dan A2, sedangkan untuk titik pondasi lainnya akan dilangsungkan dengan kolom tanpa cap / kepala pondasi.

Pekerjaan footing terdiri dari  :

1)             Pekerjaan Galian

Pekerjaan footing diawali dengan menggali lokasi sampai kedalaman tertentu sesuai gambar rencana. Pekerjaan penggalian di lokasi dilakukan dengan dengan alat backhoe. Volume penggalian yang cukup besar membuat pengerjaan dengan backhoe lebih efisien. Pekerjaan galian diawali dengan pengupasan existing berupa perkerasan jalan. Pekerjaan ini dilakukan secara manual dengan tenaga manusia, dengan bantuan pahat besar dan palu. Setelah perkerasan aspal di permukaan pekerjaan footing dikupas, barulah pekerjaan galian dengan backhoe dilakukan.

Gambar 4.50 Pekerjaan Galian Footing, inzet : tiang baja yang dipancang guna melindungi jalur lalulintas di sampingnya dari  keruntuhan saat pekerjaan galian

Guna mencegah keruntuhan saat penggalian, tiang tiag kayu dan baja dipancang di pinggiran galian, sebab bila dibiarkan runtuh, akan mengganggu pekerjaan dan dapat membuat jalan pengalih di sebelahnya rusak/ikut runtuh..

2)             Pembuatan Lantai Kerja

Lantai kerja dibuat dengan tebal sekitar 5 cm, tujuan dibuatnya lantai kerja adalah agar beton struktur footing tidak bersinggungan langsung dengan tanah, sehingga kualitas dan kekuatan beton tidak terganggu.

 

Gambar 4.51 Pengecoran Pekerjaan Lean Concrete / Lantai Kerja

3)             Pembongkaran Beton Pondasi

Pembobokan beton dimaksudkan untuk mendapat besi stek dari pondasi untuk pengikatan struktural dengan footing, beton pondasi dibobok sampai dasar galian footing. Pembobokan ini juga bertujan untuk membuang beton jelek pada pondasi bored pile. Sistem pengecoran dengan pipa tremie membuat beton bagian atas jelek, karena bercampur dengan lumpur dan air, oleh karena itu beton jelek ini perlu dibuang agar tidak merusak struktur.

 

Gambar 4.52. Pekerjaan Bobokan Beton Pondasi

4)             Pekerjaan Bekisting

Sesuatu yang unik dari bekisting footing adalah, panel plywood ditahan oleh dinding tanah disekitarnya dengan dihubungkan dengan balok-balok kayu. Bekisting footing seperti ini, seringkali disebut sistem form work tradisional, dimana pada sistem ini, bekisting menggunakan kayu nantinya akan dibongkar kembali dan disusul dengan timbunan kembali.

Gambar 4.53. Skema Form Work Tradisional pada Footing

5)             Pekerjaan Pembesian

Pembesian footing dilakukan di tempat / on-site. Baja tulangan sebelumnya dipotong dengan berbagai ukuran dan dibengkokkan sedemikian rupa di stockyard, sehingga membentuk bagian per-bagian tulangan footing yang mudah dirakit, dan effisien. Pekerjaan pemotongan dan pembengkokan baja tulangan diperhitungkan sedemikian rupa, agar tidak banyak sisa potongan baja yang terbuang begitu saja, dengan demikian akan meningkatkan cost efficiency.

Bagian-bagian tulangan tersebut kemudian dibawa ke lokasi pekerjaan untuk selanjutnya dirakit di tempat sesuai dengan gambar rencana. Bagian – bagian tulangan diikatkan satu sama lain sedemikian rupa menggunakan kawat bendrat ataupun dengan dilas.

6)             Pengecoran

Pengecoran footing dilakukan bertahap layer by layer atau per lapisan dengan ketebalan setiap lapisan sekitar 50 cm. Setiap layer dilakukan vibration/ penggetaran, kemudian dilanjutkan pengecoran selanjutnya. Hal ini ditujukan untuk menghindarai segregasi atau pemisahan komposisi dan menjaga agar beton tidak keropos / tetap padat.

Gambar 4.54 Pekerjaan Pembesian Footing A1

7.             Pekerjaan Upper Structure

Pekerjaan Upper Srtucture meliputi pekerjaan kolom, pekerajaan girder, dan pekerjaan pelat, namun pada laporan ini, hanya akan dibahas mengenai pekerjaan kolom, karena selama 3 bulan kerja praktek, proyek baru berjalan sampai pekerjaan kolom.

a.             Pekerjaan Kolom

Kolom merupakan batang vertikal dari rangka (frame) struktur yang memikul beban dari jembatan, yang meneruskannya dari elevasi atas ke elevasi bawah hingga akhirnya sampai ketanah melalui pondasi. Peran kolom sangat penting dalam konstruksi jembatan, maka pekerjaan kolom juga harus dilakukan dengan hati-hati.

Terdapat 2 jenis kolom dalam proyek ini, yakni kolom beton bertulang, dan kolom komposit. Dengan jumlah masing-masing kolom:

  • RC column                  : 14 column
  • Composit Column       : 2 column (P4, P5)

Pekerjaan kolom meliputi:

1)      Erection tulangan

Tulangan kolom didatangkan dari fabrikasi di stockyard, kemudian dipasangkan pada lokasi kolom dengan menyambungkanya pada overstek pondasi. Penyambungan ini dilakukan dengan dilas.

2)      Pemasangan bekisting

Pekerjaan bekisting pada proyek ini dilaksanakan oleh subkontraktor PT.Rizky, dimana  digunakan bekisting pabrikan yang dapat digunakan berulang-ulang. Bekisting kolom terdiri dari 2 panel yang dapat disatukan sehingga membentuk kolom dan kemudian disanggah dengan penyokong dan pengatur vertikal. Pengatur vertikal ini dapat diatur sedemikian rupa sehingga kolom berdiri dengan tegak.

(a) Penyokong vertikal


     (b) Dua panel bekisting

Gambar 4.55 Bagian-bagian bekisting

Bagian permukaan dalam panel-panel sebelumnya dilumuri dengan pelumas bekisitng, agar beton yang mengeras nantinya tidak menempel pada beskisting, dan bekisting dapat dibuka dengan mudah.

Gambar 4.56 Bekisting oil

3)      Pengecoran

Pengecoran kolom dilakukan dengan bucket mounted crane. Bucket ini seperti corong besar yang dapat menampung beton untuk diangkut, dimana bagaian bawah terdapat lubang yang daat dibuka dan ditutup sehingga beton cair dapat keluar dari bagian bawah bucket saat dibuka. Lubang tersebut disambungkan dengan selang berdiameter serupa dengan lubang tersebut, sehingga ketika beton keluar dari bawah bucket akan melewati selang tersebut.

Proses pengecoran dimulai dengan mengkaitkan bucket dengan pada crane, sehingga bucket dapat diangkat dan diturunkan. Bucket kemudian diisi dengan beton dari mixing truck, kemudian bucket diangkat tepat di atas kolom. Tutup bawah bucket kemudian dibuka sehingga beton mengalir mengisi kolom. Setiap 50 cm pengecoran, dilakukan vibration / penggetaran agar lapisan beton  tetap padat dan tidak keropos.

Pekerjaan pengecoran kolom pun dibagi dalam 2 tahap, selain untuk mengurangi biaya bekisting, hal ini untuk mencegah segregasi dan penurunan kualitas beton. Digunakan zat kimia sika pada sambungan beton, sehingga antara beton lama dan beton baru terjadi ikatan dan tidak mengalami pemisahan.

Gambar 4.57 Skema Pengecoran Kolom dengan Bucket